Tekan Ketergantungan APBD, Pemkab Belu Percepat Pertumbuhan Ekonomi Lewat Investasi dan UMKM
Atambua,– Pemerintah Kabupaten Belu menggelar Rapat Koordinasi Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Ruang Rapat Bupati Belu pada Kamis (17/9/2026).
Rapat perdana ini dipimpin langsung oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, serta dihadiri oleh Penjabat Sekretaris Daerah, para pimpinan perangkat daerah, dan seluruh anggota tim. Turut hadir pula perwakilan dari Kejaksaan Negeri Belu dan Kodim 1605/Belu.
Kegiatan strategis ini diinisiasi untuk menindaklanjuti instruksi dari Departemen Dalam Negeri (Depdagri) terkait pelaporan rutin bulanan mengenai perkembangan ekonomi daerah. Secara berkala, rapat ini bertujuan untuk memastikan program berjalan sesuai target, memantau indikator ekonomi, mengawal realisasi APBD, menjaga stabilitas harga bahan pokok. Selain itu, pertemuan ini juga dirancang untuk memperkuat sinergi antar OPD, serta meningkatkan efektivitas program kesejahteraan masyarakat.

Dalam arahannya, Bupati Belu, Willybrodus Lay, menekankan pentingnya mempermudah regulasi investasi dan perizinan usaha guna memacu pertumbuhan di berbagai sektor. Ia mengakui saat ini perputaran uang di Kabupaten Belu masih sangat bergantung pada belanja pemerintah. Terlebih lagi, kebijakan efisiensi anggaran dan fenomena antrean panjang BBM yang terjadi belakangan ini kian berdampak pada dan produktivitas serta daya beli masyarakat.
“Saat terjadi efisiensi, jumlah uang beredar berkurang sehingga toko-toko yang biasanya ramai menjadi sepi karena proyek pekerjaan untuk para tukang dan pekerja menurun. Meski demikian, aktivitas ekspor kita relatif stabil. Oleh karena itu, perizinan harus dipermudah bagi siapa saja yang ingin berinvestasi di Belu agar ekonomi kita tidak bergantung pada uang pemerintah,” ujar Bupati Willy Lay.
Sebagai langkah konkret, Bupati meminta jajarannya bersinergi dengan Bank Indonesia, Bea Cukai, dan para kontraktor daerah untuk menggeliatkan sektor UMKM melalui pelatihan berkelanjutan yang berorientasi ekspor. Beberapa potensi lokal yang disoroti antara lain kerajinan anyaman pelepah pisang (untuk produk keranjang dan tempat sampah), optimalisasi alat pembakaran gerabah guna meningkatkan produktivitas, hingga kerajinan tangan berbahan daun lontar dengan standar kualitas hotel premium.

Selain produk kerajinan, Bupati Willy Lay juga menyoroti optimalisasi night market (pasar malam) setiap malam Minggu sebagai penggerak ekonomi. Agar program ini terus hidup, ia meminta keterlibatan aktif dari instansi vertikal dan OPD secara bergiliran untuk mensponsori acara tersebut. Langkah ini dinilai berpotensi besar mengingat posisi geografis Belu yang berada di wilayah perbatasan.
“Setiap akhir pekan, terdapat lebih dari 5.600 pelintas batas dari Timor Leste yang berkunjung dan menginap di hotel-hotel kita. Ini merupakan peluang emas. Jika tidak ada pasar malam (night market) atau agenda hiburan, di mana lagi mereka mau membelanjakan uangnya? Oleh karena itu, kita harus bersinergi menciptakan destinasi wisata baru agar para wisatawan tidak bosan dan terus kembali. Kami juga berkomitmen mendorong UMKM Belu naik kelas dengan memfasilitasi pendampingan dari daerah lain, seperti Yogya dan Bali, guna meningkatkan kualitas produk agar menembus pasar ekspor,” tambahnya.

Di akhir arahannya, Bupati Belu menegaskan ambisinya yang besar untuk membawa kemajuan signifikan di wilayah perbatasan. Ia menargetkan angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Belu harus mampu bersaing, bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi Kota Kupang.
“Kita harus punya ambisi. Pertumbuhan ekonomi di perbatasan harus melampaui seluruh kabupaten di NTT, serta minimal menyamai atau berada di atas Kota Kupang, meskipun hanya selisih sekian persen. Oleh karena itu, mari kita berikan masukan dan sinergi yang baik agar target percepatan ekonomi ini tercapai melalui berbagai kegiatan menarik yang mampu mendatangkan pengunjung ke daerah kita,” tegasnya menutup arahan.
Adapun materi utama dalam rapat koordinasi ini berfokus pada pengawalan, pemantauan, dan pelaksanaan percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Materi tersebut dipaparkan langsung oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Belu, Frederikus Bere Mau, ST.
