ATAMBUA — Pangan lokal dinilai bukan sekadar sumber pemenuhan kebutuhan gizi, melainkan peluang strategis untuk menggerakkan roda ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semangat inilah yang digaungkan dalam ajang Pameran Pangan Lokal Tahun 2026 Kabupaten Belu.
Mengusung tema “Kreasi Lokal untuk Ketahanan Berkelanjutan”, pameran ini resmi dibuka oleh Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Alexon Lumba, S.H., M.Hum. Kegiatan yang melibatkan 35 pelaku UMKM serta kuliner lokal ini dijadwalkan berlangsung hingga 3 Oktober 2026.

Dalam sambutannya, Alexon memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Belu, panitia, serta seluruh peserta yang berpartisipasi. Ia menegaskan bahwa pengembangan pangan lokal harus keluar dari zona konvensional dengan bergerak melampaui batas produksi menuju pengolahan, pengemasan, dan pemasaran.
“Kita harus mengubah cara berpikir dari sekadar tanam, panen dan jual menjadi tanam, panen, olah, kemas dan jual,” tegas Alexon.
Langkah hilirisasi ini dinilai sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, memberdayakan UMKM, serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah Provinsi NTT juga terus mendorong penerapan skema OVOP (One Village One Product), OCOP (One County One Product), dan OSOP (One Sub-district One Product), serta memperluas jaringan pemasaran melalui platform seperti NTT Mart.
Alexon merinci tiga aspek esensial untuk memperkuat ekosistem UMKM di daerah:
- Akses Permodalan: Membuka ruang finansial yang lebih luas bagi pelaku usaha.
- Pendampingan Usaha: Meliputi legalitas usaha, peningkatan kualitas produk, inovasi kemasan, hingga adopsi teknologi pengolahan.
- Perluasan Pasar: Mengoptimalkan digitalisasi, Gerakan Beli NTT, serta menjalin sinergi dengan jaringan ritel, hotel, dan restoran.
“Dari petani kemudian ke UMKM. Dari UMKM kita menghasilkan produk yang berkualitas. Dari produk yang berkualitas kita menuju ke pasar dan tentunya akan mempunyai nilai tambah,” tambahnya.
Selain pelaku usaha, pameran ini turut melibatkan sekitar 200 pelajar, guru, dan sanggar seni. Kehadiran generasi muda ini dinilai krusial dalam merawat keberlanjutan pangan lokal melalui kreativitas, penguasaan teknologi, dan jiwa kewirausahaan.

Dalam kesempatan yang sama, Alexon turut mengungkapkan gagasan pengembangan satu hingga dua desa role model di setiap kabupaten. Usulan hasil diskusi bersama Wakil Bupati Belu ini dirancang menggunakan pola pembiayaan bersama antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa, yang nantinya akan diteruskan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.
Menutup rangkaian pembukaan, Alexon berharap Pameran Pangan Lokal 2026 tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan menjadi ruang kolaborasi nyata yang memperluas pangsa pasar produk lokal. Ia juga mengajak seluruh masyarakat Belu untuk bangga mencintai dan membeli produk daerah sebagai bentuk dukungan riil bagi petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
