Pemkab Belu Apresiasi Kolaborasi UGM dan Mitra dalam Membangun Kawasan Perbatasan
Atambua,– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada (UGM) dan seluruh mitra yang telah memilih Kabupaten Belu sebagai lokasi strategis pelaksanaan program pengabdian masyarakat, penelitian dan penguatan kolaborasi pembangunan di kawasan perbatasan. Sinergi ini dinilai penting mengingat posisi Kabupaten Belu sebagai wilayah perbatasan langsung antara Republik Indonesia (RI) dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).
Hal tersebut disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan pada Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Belu, Riene Bere Baria, ST yang mewakili Bupati Belu, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Cross Border Partnership di Aula Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Rabu (20/5/2026).
Ia menegaskan bahwa, wilayah perbatasan kini bukan lagi dipandang sebagai halaman belakang negara, melainkan sebagai beranda terdepan yang harus terus diperkuat. Penguatan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pembangunan manusia, ekonomi masyarakat, tata kelola desa, hingga pengembangan potensi lokal.
“Kami menyadari tantangan pembangunan di wilayah perbatasan masih cukup besar. Namun, Kabupaten Belu memiliki potensi luar biasa baik di sektor pertanian, perikanan, peternakan, budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga peluang kerja sama lintas batas negara,” ungkapnya.

Disampaikan pula, Pemkab Belu menyambut baik pelaksanaan kegiatan cross-border partnership yang menjadi ruang bersama untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, alumni dan masyarakat.
Bupati Belu juga mengapresiasi kerja nyata tim yang turun langsung ke desa-desa dan melakukan observasi lapangan agar program yang dirancang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.
Lanjutnya, program pengabdian dan KKN kolaboratif ini sendiri telah memasuki tahun kedua. Jika pada tahun sebelumnya UGM berkolaborasi dengan Universitas Nusa Cendana (Undana), pada tahun ini program tersebut diperluas hingga melibatkan kolaborasi lintas negara dengan perguruan tinggi asal Timor Leste.
Melalui kolaborasi lintas institusi dan wilayah ini, pihaknya berharap akan ada kontribusi nyata dalam penguatan kapasitas, peningkatan kualitas perencanaan pembangunan desa serta pemberdayaan ekonomi lokal. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dan akademisi diharapkan mampu mendukung semangat pengabdian dan memupuk rasa nasionalisme di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Acara ini dilanjutkan dengan sesi pemaparan dan diskusi potensi kolaborasi yang dipandu oleh interrelegious Studies/Indonesia Consortium For Religious Studies Unit Kerja Sama Sekolah Pascasarjana Universitas Gadja Mada, Dr. Leonard Chrysostomos Epafrans. Sesi ini berfokus pada penyelarasan program antara akademisi dan pemerintah daerah untuk wilayah perbatasan, yang diisi oleh Narasumber Utama, Tim UGM (Program Egulty dan KKN Kolaborasi), Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Belu dan Caritra (Perencanaan Desa di Wilayah Perbatasan). Pembahas Program, Wakil Rektor Penelitian dan Pengabdian UGM, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undana,
Dekan Fakultas Vokasi Logistik Militer (FVLM) Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Kagama NTT serta Kagama Timor Leste, melibatkan Pimpinan Perangkat Daerah serta para Camat dan Kepala Desa dari wilayah perbatasan.
