ATAMBUA — Suasana Gereja Katedral Imakulata Atambua terasa begitu bergetar dan menyentuh sanubari. Di bawah naungan altar yang syahdu, ratusan warga bersama jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) berkumpul dalam satu nafas: mengucap syukur atas perjalanan usia Kota Atambua, tanah perbatasan yang menjadi rumah bagi segenap jiwa dan harapan.
Misa syukur yang berlangsung khusyuk ini dipimpin langsung oleh Rm. Kristianus Fallo, Pr., S.Fil., S.Pd. Dalam keheningan doa, deretan kursi gereja menyatukan para ASN yang hadir melepaskan sejenak rutinitas pelayanan publik demi menundukkan kepala bersama warga. Doa-doa yang dilantunkan Rm. Kristianus mengalir lembut, merawat ingatan bersama bahwa setiap jengkal kemajuan kota ini adalah berkat dan rahmat Tuhan yang tak terhingga, Jumat (16/10/2026)

Suasana kian haru saat perayaan liturgi usai dan Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH. melangkah ke depan untuk memberikan sambutan. Membaur sejak awal di antara jemaat, Bupati Willybrodus mengajak seluruh hadirin menatap kembali lembaran sejarah Kota Atambua.
Dengan nada suara yang dalam dan penuh kehangatan, beliau merajut kembali kisah perjalanan Atambua dari masa ke masa—sebuah kota kecil di garis batas negara yang tumbuh tangguh dari ketulusan, tetes keringat, dan pengorbanan para leluhur. Penjabaran sejarah itu seolah mengetuk kesadaran semua yang hadir bahwa Atambua bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan cinta yang harus dijaga bersama.
Puncak momen yang paling menggetarkan hati terjadi ketika Bupati Belu menyampaikan pesan penutupnya. Beliau menegaskan sebuah visi kemanusiaan yang mendalam untuk peringatan ulang tahun kota di tahun mendatang.
“Saya sangat berharap, pada perayaan Misa Syukur tahun depan, kita dapat melibatkan saudara-saudara kita penyandang disabilitas secara langsung. Kita ingin mereka hadir di sini, duduk bersama kita, dan merasakan secara nyata betapa kita saling memiliki. Jangan ada batas di antara umat, agar persaudaraan masyarakat Belu semakin erat dan utuh,” tutur Bupati Willybrodus dengan wajah tulus dan penuh penegasan.

Pernyataan tersebut disambut keheningan yang dalam dari para jemaat dan ASN, sebelum akhirnya berubah menjadi anggukan haru dan rasa bangga. Harapan ini menegaskan tekad bersama untuk menjadikan Atambua bukan hanya kota yang terus bersolek dengan pembangunan fisik, tetapi juga kota yang memiliki “hati” yang merangkul semua anak bangsa tanpa terkecuali.
Usai rangkaian perayaan, hangatnya rasa kekeluargaan meluap hingga ke halaman katedral. Para ASN, tokoh agama, dan warga saling berjabat tangan erat, bertukar senyum, serta mengabadikan momen bersama. Tidak ada jarak, tidak ada sekat—hanya ada kebanggaan menjadi bagian dari masyarakat Belu yang hangat dan penuh kasih.
Selamat Ulang Tahun, Kota Atambua tercinta. Semoga semakin damai, makin inklusif, dan senantiasa berada dalam naungan berkat-Nya.
