Atambua – Masyarakat adat di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, kembali menggelar ritual adat Nokar Hapal (buka pintu) dan Bei Fege Asu menjelang pelaksanaan Festival Fulan Fehan di kawasan cagar budaya Holhara Ranu Hitu atau yang dikenal dengan Benteng Lapis Tujuh.
Rangkaian acara yang sarat akan nilai spiritual ini diikuti oleh para tetua adat (feto kana/umamuk), tokoh masyarakat, serta warga dengan panduan ketat dari para penutur adat.

Rangkaian upacara adat ini dilaksanakan secara bertahap dengan rute dan tata cara yang dipandu langsung oleh para tetua adat setempat.
Prosesi dimulai dari nuawain (tempat pemujaan awal) yang berlokasi sekitar 250 meter sebelum Kantor Desa Dirun. Setelah itu, ritual dilanjutkan di titik kedua yang terletak tepat di sebelah kantor desa, dan titik ketiga di depan rumah tinggal tokoh adat setempat. Untuk ritual keempat dan seterusnya, arahan diberikan langsung oleh para tetua adat.
Dari Rumah Suku Loos tempat benda pusaka dikeluarkan, rombongan berjalan menuju empat pintu gerbang benteng secara berurutan.
Pintu 1 (Ksadan Hot Gie Lete), dilakukan ritual Nokar Hapal. Imam adat akan menabur beras, memanjatkan doa memohon agar pintu dibukakan, memberikan sesajian serta menyembelih ayam jantan merah yang telah berkokok dengan janggul utuh.
Pintu 2 (Ksadan Ma Ril), dilakukan ritual dan doa serupa oleh imam adat untuk meminta izin melintas ke pintu selanjutnya, yang kembali ditandai dengan pemotongan ayam.
Rombongan melanjutkan perjalanan ke pintu ketiga dan keempat. Di setiap pintu, prosesi ritual dan tabur doa dilakukan dengan permohonan khusus yang berbeda di setiap posnya.

Setelah melewati Pintu keempat, perjalanan dilanjutkan melalui jalan tikus dengan medan tanjakan yang terjal hingga mencapai area puncak Benteng Lapis Tujuh.
Puncak prosesi sakral Bei Gege Asu diselenggarakan di Tel Opa (lokasi kuburan raja) yang berada tepat di tengah benteng. Sebagai puncak persembahan, hewan kurban berupa babi jantan hitam dengan ekor dan telinga yang utuh disembelih oleh tetua adat.
Tetua adat Desa Dirun, Petrus Hale Oan menjelaskan, ritual Buka Pintu wajib dilakukan untuk menghormati leluhur yang bersemayam di Holhara Rany Hitu, selaku pemilik sah benteng pertahanan tradisional tersebut.
“Kalau mau masuk ke dalam, ada tujuh pintu yang harus dilewati dan masing-masing memiliki penjaga atau pintunya sendiri,” ujar tetua adat saat ditemui di lokasi.
Lanjutnya, dalam prosesi tersebut, masyarakat adat melakukan penyembelihan hewan kurban berupa babi. Ritual bunuh babi ini dimaksudkan sebagai bentuk pemberitahuan dan permohonan pelindungan kepada Raja Dirun. Melalui restu sang raja, diharapkan para panitia, peserta, dan pengunjung festival senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.
Disampaikan pula, upacara adat ini menggunakan media sirih pinang, ayam, babi, kambing dan sapi.
Setelah seluruh rangkaian Festival Fulan Fehan selesai, masyarakat adat akan menggelar ritual “Tutup Pintu” untuk mengembalikan kesucian tempat tersebut. Ritual penutup ini wajib menggunakan kurban satu ekor kambing dan satu ekor babi, atau alternatifnya satu ekor sapi dan satu ekor babi.
“Hewan yang bertanduk (kambing/sapi) berfungsi untuk menyapu kotoran, sedangkan darah babi digunakan untuk mendinginkan kembali suasana spiritual di benteng tersebut,” tambah sang tetua adat.
Ia menjelaskan, upacara adat yang sarat makna ini bersifat inklusif. Pelaksanaannya melibatkan seluruh strata sosial, mulai dari garis keturunan bangsawan (Suku Na’i) hingga kelompok masyarakat biasa, sebagai bukti kuatnya ikatan gotong royong warga dalam menjaga warisan leluhur.
Di akhir penjelasannya, tetua adat menitipkan pesan penting kepada pemerintah untuk memugar fisik Benteng Tujuh Lapis yang saat ini kondisinya sudah mulai rusak, agar situs sejarah ini tetap lestari bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo, S.IP, menyampaikan bahwa serangkaian persiapan inti telah dilakukan jauh-jauh hari. Fokus utama persiapan saat ini meliputi pemantapan formasi pentas hingga pelaksanaan ritual adat lokal demi kelancaran acara.
“Persiapan menjelang Festival Fulan Fehan yang puncaknya pada 27 Juni 2026 mendatang sudah dilakukan sebelumnya, yakni persiapan pentas termasuk ritual adat,” ujar Nona Alo saat memberikan keterangan kepada media.
Ia menambahkan, sebagai bagian dari strategi promosi dan penguatan atmosfer festival, pihaknya juga mengagendakan beberapa kegiatan pra-event. Salah satu program andalan yang akan segera digulirkan adalah kampanye Road To Fulan Fehan.
Lanjutnya, festival tahun ini dipastikan tampil lebih megah dengan target partisipasi mencapai 3.000 penari. Menariknya, para pengisi acara tidak hanya dari wilayah Kabupaten Belu, tetapi juga melibatkan peserta dari negara tetangga, Timor Leste.
“Formasi penari masal ini akan diisi oleh kolaborasi pelajar dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), serta mahasiswa dari Universitas Pertahanan (Unhan),” imbuhnya.
Disampaikan pula, selain menyajikan tarian adat Likurai yang menjadi ikon utama, festival kali ini juga akan dimeriahkan oleh pertunjukan musik suling serta aksi dari marching band. Perpaduan unsur tradisional dan modern ini diharapkan mampu menyuguhkan tontonan yang memukau para wisatawan.
Kadis Nona Alo berharap, momentum ini dapat menjadi pemantik bagi bangkitnya ekosistem seni budaya di wilayah Belu. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat secara aktif demi menyukseskan acara tersebut.
“Kegiatan ini bisa dihidupkan kembali, dan masyarakat bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini setelah vakum hampir 5 tahun,” tutup Januaria optimis.
Seluruh rangkaian upacara ditutup dengan kegiatan memasak makanan adat secara bersama-sama di lokasi terakhir (Tel Opa) dan makan bersama.
