Bupati Belu Buka Lomba Paduan Suara PGRI, Tekankan Peningkatan Kualitas Pendidikan
Atambua – Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Belu menyelenggarakan Lomba Paduan Suara PGRI Tingkat Kabupaten Belu Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Wanita Betelalenok, Atambua, Kamis (30/4/2026) ini secara resmi di buka oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH serta dihadiri oleh Ketua DPRD Belu, Kepala UPTD Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Pimpinan Perangkat Daerah Kabupaten Belu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belu, Pimpinan BPJS Kabupaten Belu, para Dewan Juri serta Pengurus PGRI se-Kabupaten Belu.
Lomba paduan suara yang mengusung tema “Melodi Pendidikan, Guru Bergerak, Indonesia Pintar” ini melibatkan 11 regu paduan suara mewakili cabang PGRI kecamatan se-Kabupaten Belu. Mereka adalah PGRI Cabang Kecamatan Raimanuk, PGRI Cabang Kecamatan Nanaet Duabesi, PGRI Cabang Kecamatan Raihat, PGRI Cabang Kecamatan Tasifeto Timur, PGRI Cabang Kecamatan Lasiolat, PGRI Cabang Kecamatan Kota Atambua, PGRI Cabang Kecamatan Lamaknen, PGRI Cabang Kecamatan Tasifeto Barat, PGRI Cabang Kecamatan Lamaknen Selatan, PGRI Cabang Kecamatan Atambua Barat dan PGRI Cabang Kecamatan Atambua Selatan.

Ketua PGRI Kabupaten Belu, Yanuarius Wadan, S.Pd menegaskan komitmennya untuk membangkitkan kembali marwah organisasi yang sempat redup.Yanuarius mengakui dalam satu dekade terakhir, eksistensi PGRI di Kabupaten Belu sempat mengalami masa lesu. Namun, melalui momentum terpilihnya delapan pengurus harian sejak 13 Desember 2025 di Betelalenok menjadi titik balik bagi organisasi profesi ini.
‘Kami memperoleh kekuatan dan ilham baru sejak terpilih. Karena itu, kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bupati Belu dan Kepala Dinas PKO yang telah memfasilitasi kami, memberikan tempat pertama kalinya untuk menyelenggarakan Konferda di gedung ini,” ujar Yanuarius.
Ia menambahkan, dukungan penuh dari pemerintah daerah merupakan sinyal positif bagi masa depan para guru.
“Kami bertekad merias kembali aura PGRI yang sempat memudar dan pucat. Kekuatan organisasi profesi ini kami dapatkan di tempat ini dan ini menjadi tanda bahwa pemerintah daerah sungguh mendukung kembali kehidupan PGRI. Ini adalah kebanggaan besar bagi seluruh guru di Belu,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Yanuarius juga mengajak seluruh anggota untuk melakukan refleksi diri. Ia berharap momentum Konferda ini dijadikan cermin untuk mengukur sejauh mana integritas dan semangat para guru dalam mengabdi di Rai Belu.
Meski baru menjabat selama tiga bulan, lanjut Yanuarius, pengurus PGRI Belu telah menunjukkan pergerakan yang progresif. Beberapa langkah nyata yang telah dilakukan antara lain: Konsolidasi dan Reorganisasi, penataan ulang kepengurusan PGRI di 12 kecamatan se-Kabupaten Belu, pembangunan Kultur Kerja dan menciptakan budaya kerja yang lebih terarah dan profesional demi membesarkan organisasi. Selain itu, pihaknya juga melakukan Digitalisasi Keanggotaan melalui pendaftaran Kartu Tanda Anggota (KTA) secara online, di mana hingga saat ini, hampir seribu guru di Belu telah memiliki KTA digital tersebut.

Sementara itu, Bupati Belu dalam sambutannya menekankan agar ajang kreativitas seperti ini tidak hanya berhenti di tingkat kabupaten, tetapi harus memiliki visi yang lebih luas. Ia mengusulkan agar ke depannya lomba serupa digelar bergilir di tingkat kecamatan agar euforianya merata, bukan hanya berpusat di Kota Atambua.
“Saya ucapkan proficiat atas terselenggaranya kegiatan ini dan selamat kepada pengurus PGRI yang baru. Ke depan, saya minta lomba paduan suara ini jangan hanya di kota, tapi buat di kecamatan-kecamatan,” ujar Bupati Willy Lay.
Lebih lanjut, Beliau menantang para Tim untuk berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi, yakni mencakup seluruh daratan Timor.
“Pemenang dari sini harus tanding dengan peserta dari Kabupaten Kupang, Kota Kupang, TTU, TTS, dan Malaka. Puncaknya, kita akan gelar festival besar di kawasan Patung Bunda Maria. Kita buat Festival Lomba Paduan Suara Gereja se-Pulau Timor agar lomba ini ada output nyata dan dampak pariwisatanya terasa,” tegasnya.
Di balik kemeriahan lomba, Bupati Belu juga memberikan catatan kritis terkait kondisi pendidikan di wilayahnya. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap Indeks Pembangunan Pendidikan Kabupaten Belu yang saat ini masih berada di peringkat tiga terbawah.
“Saya minta dengan sangat kepada para guru, mari kita kerja keras perbaiki indeks pendidikan kita. Saat ini Belu nomor tiga dari bawah. Ini adalah tugas kita bersama untuk mengangkat martabat pendidikan di daerah ini,” pesannya di hadapan ratusan guru yang hadir.
Bupati juga menginstruksikan kepada seluruh Kepala Sekolah untuk memberikan perhatian ekstra pada penguatan literasi dan numerasi siswa. Menurutnya, kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung adalah fondasi utama agar kualitas lulusan sekolah di Belu mampu bersaing dengan daerah lain.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi PGRI tidak hanya untuk mempererat persaudaraan melalui seni, tetapi juga sebagai titik balik peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Belu,” pungkasnya.
Pantaun media, dalam lomba paduan suara PGRI ini, masing-masing tim membawakan dua lagu, yakni Mars PGRI dan Hymne Guru. Setiap tim beranggotakan 31 hingga 41 orang, terdiri dari guru dan tenaga kependidikan. Penampilan para peserta yang mengenakan seragam batik memukau para penonton dan dewan juri. Harmonisasi suara dan penghayatan lagu yang dibawakan mencerminkan kekompakan para pendidik.
