Romo Benyamin Seran, Pr Rayakan 40 Tahun Imamat, Ungkap Syukur atas Penyertaan Tuhan
ATAMBUA – Sebagai ungkapan syukur atas penyertaan dan rahmat Tuhan selama 40 tahun menjalani panggilan imamat, Romo Benyamin Seran, Pr, merayakan Ekaristi Syukur Pancawindu Imamat. Perayaan ini berlangsung pada Senin, 26 Oktober 2026, bertempat di halaman SMA Katolik Suria Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Perayaan Ekaristi Syukur ini dipimpin langsung oleh Yang Mulia Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr. Momen istimewa ini digelar untuk mengenang perjalanan panggilan imamat Romo Benyamin Seran, Pr., sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan selama empat dekade dalam menjalankan tugas pelayanan, serta 25 tahun pengabdian mulianya sebagai Kepala Sekolah.
Dalam sambutan Sang Yubilaris, Romo Benyamin Seran, Pr, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah dengan tulus bergandengan tangan mendukung terlaksananya perayaan misa 40 tahun imamatnya.
Romo Benyamin menerima rahmat tahbisan imamat pada 25 Oktober 1986. Sejak saat itu, beliau memulai perjalanan panjang sebagai seorang imam. Sepanjang empat dekade pelayanan tersebut, berbagai pengalaman, tantangan, kegembiraan, kesedihan, keraguan, dan pelajaran hidup silih berganti membentuk dirinya hingga hari ini.

” Empat puluh tahun imamat bukanlah perjalanan yang singkat. Saya menjalani panggilan ini dengan berpegang pada motto:
“Aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (Lukas 1:38).
Motto ini mengingatkan saya bahwa hidup dan pelayanan seorang imam bukanlah semata-mata tentang kehendak pribadi, melainkan tentang kesediaan untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan,” ungkap Sang Yubilaris dalam sambutannya.
Romo Benyamin mengenang perjalanan panggilannya yang tidak selalu mudah. Ia menyadari bahwa dirinya memiliki banyak keterbatasan dan pernah mengalami keraguan terhadap panggilan imamat.
“Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa ketidakpahaman bukanlah penghalang bagi seseorang memenuhi panggilan Tuhan. Tuhan mempercayakan tugas pelayanan kepada siapa saja, termasuk mereka yang merasa rapuh dan penuh kekurangan,” ujar Romo Min Seran.
Ia juga menegaskan bahwa seorang imam bukan hanya milik keluarga, melainkan milik seluruh umat. Imamat bukanlah kehidupan yang dijalani untuk diri sendiri, melainkan panggilan untuk melayani dan hadir bagi sesama. Karena itu, seorang imam harus terus belajar, bertumbuh, dan memberikan dirinya bagi Gereja serta umat.
” Oleh karena itu, perayaan ini bukanlah kesempatan untuk membanggakan diri, melainkan momen untuk bersyukur, merefleksikan diri, memperbarui komitmen, dan menyerahkan kembali seluruh hidup serta pelayanan kepada Tuhan” tandasnya.

Sementara itu, mewakili Keluarga Sang Yubilaris, Bapak Stefanus Bria Seran menyampaikan menyampaikan pesan dan harapan kepada Romo Benyamin Seran, Pr., agar senantiasa menjaga dan menjalankan tugas serta tanggung jawab dengan baik, khususnya dalam memajukan sekolah yang dipercayakan kepadanya.
“Mewakili keluarga, saya berdiri disini berharap agar Romo Benyamin agar tetap teguh pada prinsip dan komitmen pelayanan, bekerja dengan penuh tanggung jawab, serta terus berupaya meningkatkan prestasi dan kualitas pendidikan di sekolah tersebut,” imbuhnya.
Selain itu, ia juga berpesan agar Romo Benyamin senantiasa menjaga dan merawat panggilan imamat yang telah dijalaninya selama 40 tahun. Panggilan suci ini hendaknya terus dihidupi dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pengabdian kepada Tuhan, Gereja, serta seluruh umat.
Rangkaian kegiatan 40 Tahun imamat Romo Benyamin Seran, diawali dengan penjemputan Uskup Atambua, yubilaris, Ketua Perdaki Pusat dan para undangan di pertigaan SMA Katolik Suria Atambua.
