Unika Soegijapranata Semarang Kembangkan Aplikasi IGD Virtual untuk Percepat Layanan Kesehatan di Perbatasan Belu
Atambua – Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang resmi meluncurkan kegiatan penelitian terkait penggunaan sistem Instalasi Gawat Darurat (IGD) Virtual di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur di Hotel Setia Atambua pada Rabu (14/10/2026). Penelitian ini diinisiasi untuk menghadirkan solusi digital yang mampu mempercepat dan mengefektifkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya dalam penanganan kondisi medis darurat secara daring.
Penelitian ini mengangkat judul yang sangat relevan dengan kebutuhan daerah perbatasan, yaitu Pengembangan Model IGD Virtual Berbasis Telemedisin di Kabupaten Belu: Respons Pelayanan Kegawatdaruratan Kesehatan yang Memberikan Perlindungan Hukum Berkemanusiaan”.
Tim peneliti yang turun langsung ke lapangan terdiri dari tiga pakar lintas disiplin ilmu, yaitu :
- Dr. A. Joko Purwoko, S.H., M.Hum
- Dr. dr. Gregorius Yoga Panji Asmara, S.H., M.H., CLA., CCD., CMC
- Hironimus Leong, S.Kom., M.Kom.

Ketua Tim Peneliti, Dr. A. Joko Purwoko, S.H., M.Hum, menjelaskan bahwa pemilihan Kabupaten Belu sebagai lokasi penelitian merupakan bentuk komitmen akademis terhadap wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
“Kami dari fakultas kedokteran memberikan perhatian khusus kepada daerah-daerah yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Wilayah perbatasan ini menjadi prioritas kampus kami, sehingga kami memutuskan untuk turun langsung dan melakukan penelitian di sini,” ujar Dr. Joko.
Menurut Dr. Joko, output akhir yang ditargetkan dari riset ini adalah sebuah aplikasi khusus gawat darurat. Sistem ini dirancang untuk memangkas birokrasi medis agar masyarakat yang membutuhkan pertolongan cepat dapat langsung terhubung dengan tenaga kesehatan secara virtual.
Meski draf awal aplikasi sudah tersedia, pihak Unika Soegijapranata menegaskan bahwa kesempurnaan sistem ini sangat bergantung pada kolaborasi lokal. Oleh karena itu, mereka membutuhkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) di Kabupaten Belu untuk menyempurnakan aplikasi tersebut.
“Untuk membangun aplikasi yang benar-benar siap guna, kami membutuhkan banyak masukan dari Dinas Kesehatan, profesi dokter, perawat, hingga Dinas Kominfo yang nantinya akan membantu mempersiapkan infrastruktur serta penerapan aplikasi ini ke depan. Semua masukan berharga tersebut akan kami olah untuk menyempurnakan sistem yang sudah kami buat,” pungkasnya.

Melalui sinergi antara akademisi dan Pemerintah Daerah Kabupaten Belu, penerapan IGD Virtual diharapkan menjadi terobosan baru dalam menekan angka fatalitas kegawatdaruratan di wilayah tapal batas negara.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa kegiatan FGD ini berjalan interaktif dengan menghadirkan para pemangku kepentingan di Kabupaten Belu. Hadir sebagai peserta aktif dalam diskusi ini, antara lain pejabat yang mewakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu, pejabat yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu beserta jajaran Bidang Pelayanan Kesehatan, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Belu, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Belu, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Belu.
Selain jajaran struktural dan organisasi profesi, diskusi ini juga melibatkan garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, yakni para Kepala UPTD Puskesmas di wilayah Kabupaten Belu, yang meliputi Puskesmas Kota, Puskesmas Atambua Selatan, Puskesmas Umanen, Puskesmas Haliwen, Puskesmas Halilulik, Puskesmas Weluli, Puskesmas Haekesak dan Puskesmas Silawan.
