Wabup Belu Tutup KKN Tematik GENTASKIN Batch II 2026: Fokus pada Dampak Nyata untuk Masyarakat
Atambua – Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST, secara resmi menutup program Mahasiswa Berdampak Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (GENTASKIN) Batch II Tahun 2026 pada Senin (31/8/2026). Acara penarikan peserta ini berlangsung di Gedung Wanita Betelalenok, Atambua.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Dandim 1605 Belu, Dansatgas Pamtas RI-RDTL, Koordinator Pokja Sumber Daya Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, para pimpinan perangkat daerah Kabupaten Belu, para camat, kepala desa, serta para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Ketua Panitia Penarikan yang juga menjabat sebagai Pembantu Ketua I Bidang Akademik STKIP Nusa Timor Atambua, Heriardus Riu Bere, S.S., M.Pd, dalam laporannya menjelaskan bahwa GENTASKIN merupakan wujud kolaborasi nyata antara LLDIKTI Wilayah XV, perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan para mitra. Program ini menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari solusi atas persoalan di tengah masyarakat.
“Pada Batch II tahun 2026, program ini mengusung Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif sebagai kelanjutan dari Batch I yang berfokus pada penuntasan stunting dan kemiskinan. Kini arahnya diperluas pada penguatan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, ketahanan masyarakat, inklusivitas, serta partisipasi aktif warga,” ujar Heriardus.

Lanjutnya, program yang berlangsung selama hampir dua bulan—sejak 9 Juli hingga 31 Agustus 2026—ini melibatkan 41 perguruan tinggi yang terdiri dari 3 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 38 Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Secara keseluruhan di Provinsi NTT, program ini mengerahkan 2.319 mahasiswa dan 100 DPL yang tersebar di desa-desa sasaran di 13 kabupaten.
“Khusus di Kabupaten Belu, kegiatan dilaksanakan di 10 desa dengan melibatkan 146 mahasiswa dan 10 DPL,” tambahnya.

Di sela-sela laporannya, Heriardus menyampaikan kabar duka atas meninggalnya salah satu DPL dari Universitas Citra Bangsa, Bapak Sebastianus Kurniadi Tahu, S.Kep., M.Kep., saat menjalankan tugas di Desa Halimodok sekitar tiga minggu lalu. Seluruh hadirin pun diajak mendoakan almarhum agar beristirahat dengan damai.
Disampaikan pula, selama berada di desa, para mahasiswa menjalankan program multi-sektor yang mencakup bidang kesehatan dan gizi, pencegahan stunting, pemberdayaan ekonomi, pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, pendidikan, sosial budaya, lingkungan, hingga digitalisasi. Untuk menjamin kemanfaatan program, LLDIKTI Wilayah XV telah menyiapkan instrumen khusus guna mengukur perubahan kondisi dari awal hingga dampak akhir yang dirasakan masyarakat sebagai bahan evaluasi ke depan.
Koordinator Pokja Sumber Daya LLDIKTI Wilayah XV, Nina Bere Mau, dalam sambutannya menegaskan bahwa momentum penutupan ini merupakan hasil dari proses panjang koordinasi, komunikasi, dan perencanaan matang demi menyamakan persepsi. Menurutnya, KKN Tematik GENTASKIN bukan sekadar menempatkan mahasiswa di desa selama beberapa bulan, melainkan sebuah upaya nyata untuk menghadirkan mereka di tengah realitas sosial.

Sementara itu, Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, serta jajaran pemerintah desa dan masyarakat yang telah mendukung penuh program ini. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya dosen pendamping di Desa Halimodok.
Wabup Vicente menekankan pentingnya program KKN yang berdampak nyata bagi masyarakat. Ia menyatakan pemerintah tidak ingin kehadiran mahasiswa hanya bersifat sementara tanpa meninggalkan manfaat jangka panjang.
“Ukuran keberhasilan KKN bukan hanya seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, melainkan apa yang tersisa setelah mahasiswa meninggalkan desa. Dampak nyata itu terlihat jika masyarakat mampu melanjutkan inovasi, pengetahuan, dan keterampilan yang telah dirintis bersama,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tema GENTASKIN yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan sangat relevan dengan arah pembangunan Kabupaten Belu. Mengingat kemiskinan adalah masalah multidimensi yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, dan produktivitas, Vicente mengajak seluruh elemen untuk terus merawat kolaborasi antara gagasan baru dari mahasiswa, pengalaman lokal masyarakat, serta kebijakan strategis pemerintah demi melahirkan solusi yang tepat sasaran.
