Atambua – Pemerintah Kabupaten Belu, bersama Pemerintah Timor Leste resmi menjajaki kolaborasi lintas batas untuk mengendalikan penyebaran virus HIV/AIDS di wilayah perbatasan kedua negara. Langkah strategis ini diawali dengan pertemuan koordinasi di ruang rapat Bupati Belu pada Kamis (27/8/2026), guna merumuskan program aksi bersama yang aplikatif dan berkelanjutan.
Tingginya mobilitas masyarakat di pintu perbatasan mendesak penanganan masalah kesehatan ini. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belu dan lembaga Incsida Timor Leste mebunjukkan tingginya kasus HIV/AIDS di wilayah perbatasan. Posisi Atambua sebagai kota transit bagi warga kedua negara membuat wilayah ini sangat rentan terhadap penularan.

Koordinator UPKM/CD Bethesda YAKKUM Area Belu, Almada Lasi, menjelaskan bahwa pertemuan hari ini berfokus pada strategi kolaborasi. Peserta mendiskusikan dan menyepakati draf kegiatan penanggulangan. Draf tersebut akan disahkan lewat penandatanganan resmi di Hotel Nusantara Dua esok hari.
Beberapa poin aksi utama dalam kesepakatan penanggulangan ini meliputi:
- Penyediaan Pojok Baca Perbatasan: Mendirikan pusat informasi khusus di area perbatasan untuk mengedukasi warga mengenai pencegahan penularan HIV/AIDS.
- Kampanye Edukasi Berkala:
Melaksanaan kampanye kesadaran publik secara rutin, baik sebulan sekali maupun tiga bulan sekali, sesuai kesepakatan teknis lanjutan.
-Skrining Kelompok Berisiko:
Melakukan pemeriksaan HIV berkala di pintu perbatasan bagi kelompok berisiko tinggi yang sering melintasi batas negara (seperti pekerja seks dan transgender), berdasarkan usulan Pemerintah Kabupaten Belu.
-Aksi hari AIDS Sedunia:
Mengadakan kegiatan terpadu pada 1 Desember mendatang yang mencakup edukasi massal, pemeriksaan kesehatan, kampanye penghapusan stigma dan diskriminasi, serta dukungan peningkatan kualitas hidup Orang Dengan HIV (ODHIV).
Lebih lanjut, Alma menekankan bahwa kedekatan sosial-budaya dan ikatan kekeluargaan yang erat membuat warga Belu dan Timor Leste sering keluar masuk perbatasan. Oleh karena itu, skema pemantauan ODHIV lintas batas menjadi salah satu poin krusial yang dibahas.
“Melalui kolaborasi ini, jika ada ODHIV asal Belu yang berada di Timor Leste mengalami kehabisan obat, putus obat, atau kondisi kesehatannya menurun, pihak Insida Timor Leste akan membantu menjangkau dan mendampingi mereka. Begitu juga sebaliknya jika ada warga Timor Leste yang mengalami hal serupa,” ujar Alma.
