Sambut Festival Persahabatan Internasional 2026, Pemprov NTT dan Pemkab Belu Gelar Friendship Dinner di Atambua
Atambua – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Pemerintah Kabupaten Belu menggelar acara Friendship Dinner sebagai pembuka rangkaian Festival Persahabatan Internasional 2026 di Gedung Wanita Betelalenok, Atambua, Kabupaten Belu, Rabu malam (1/7/2026).
Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum, Bupati Belu Willybrodus Lay, SH, Wakil Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Kamilus Elu, S.H., Dr. Anthony Greco, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Hadir pula para tokoh agama terkemuka, seperti Ketua Majelis Pertimbangan PGI Pdt. Gomar Gultom, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) NTT Pdt. Kirenius Bole, perwakilan FKUB, hingga Atase Agama serta Konsul Negara Sahabat, Timor Leste.

Bupati Belu secara khusus menyampaikan apresiasi mendalam atas dipilihnya Atambua sebagai pusat pelaksanaan festival kemanusiaan dan keagamaan berskala internasional ini.
“Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Anthony Greco yang telah memilih Atambua, Kabupaten Belu, sebagai lokasi festival persahabatan ini. Kehadiran ruang-ruang dialog seperti ini sangat berharga bagi kami di wilayah perbatasan,” ujar Bupati Belu.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Gubernur NTT Dr. Johanis Asadoma, S.I.K., M.Hum. dalam arahannya menegaskan bahwa Kabupaten Belu memiliki posisi strategis dalam menyuarakan perdamaian karena berbatasan langsung dengan Timor Leste. Wagub menekankan bahwa kerukunan, toleransi, dan gotong royong merupakan modal dasar yang paling utama dalam mendorong roda pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai pembicara utama, pengkhotbah internasional Dr. Anthony Greco menyampaikan pesan universal yang menyentuh hati seluruh tamu undangan yang memadati Gedung Wanita Betelalenok. Mengutip kebijaksanaan Raja Salomo, ia mengingatkan pentingnya memilih jalan perdamaian dari pada perselisihan.
“Orang bodoh dapat memulai pertengkaran, tetapi orang bijak membangun persahabatan. Kami datang dengan satu pesan sederhana yang melampaui sekat agama dan latar belakang: bahwa Tuhan mengasihi semua manusia tanpa terkecuali,” tutur Dr. Anthony.

Dr. Anthony juga membagikan refleksi mendalam mengenai realitas kehidupan masyarakat global saat ini yang kerap dilingkupi rasa takut, rasa salah, dan pengotak-otakan. Menurutnya, festival ini hadir bukan untuk membandingkan atau mempertentangkan doktrin agama, melainkan untuk membawa kesembuhan batin, pemulihan fisik melalui mukjizat, serta menawarkan pengampunan dan kedamaian sejati bagi siapa saja yang mencari.
Melalui momentum Festival Persahabatan Internasional 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Belu bersama Pemprov NTT mengharapkan seluruh lapisan masyarakat—baik tokoh pemuda, tokoh adat, akademisi, hingga warga lintas iman—untuk merekatkan kembali nilai-nilai kebhinekaan. Pertemuan akbar ini diharapkan menjadi pemantik bagi bumi perbatasan agar terus tumbuh sebagai contoh nyata dari sebuah komunitas yang aman, harmonis, penuh sukacita, dan saling mendukung demi kemajuan bersama di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
