Atambua – Umat Katolik di Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua kembali menggelar tradisi rohani tahunan yang menjadi kekhasan wilayah perbatasan RI-RDTL, yakni Prosesi Tri Harta Iman ke-38, pada Rabu, (7/10/2026).
Kegiatan rohani yang dimulai pada pukul 15.00 WITA ini menjadi momen sakral bagi umat untuk memperdalam serta menghayati dasar iman Katolik secara universal. Prosesi ini merupakan perwujudan iman umat Katolik yang dirayakan melalui perarakan tiga simbol utama, yakni Sakramen Mahakudus (Perayaan Ekaristi), Alkitab, dan Patung Bunda Maria. Melalui momentum ini, umat diajak untuk merefkeksikan iman mereka sekaligus memohon berkat bagi kehidupan di lingkungan masing-masing.

Pastor Paroki Santa Maria Immaculata Atambua, Romo Agustinus Seran Berek, Pr, dalam ibadat prosesi mengatakan bahwa umat Katolik mengarak ketiga harta iman yakni Kitab Suci/Alkitab, Sakramen Maha Kudus, dan Patung Bunda Maria secara bersamaan. Hal ini mengambarkan ketiga harta iman tersebut secara singkat, sederhana namun sarat makna sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain.
“Pada mulanya adalah Firman, Firman telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dia datang dalam dan melalui kandungan seorang Ibu, Dia tetap tinggal di antara kita dalam sakramen mahakudus, inilah warisan harta surgawi bagi kita,” ungkap Romo Agustinus.
Senada dengan hal tersebut, Romo Kristianus Falo, Pr menegaskan bahwa prosesi ini merupakan tradisi tahunan yang telah membudaya dan melekat erat sebagai kekhasan umat di paroki setempat.
Ketua Panitia Pelaksana, Edi Ola, menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan ini merupakan bukti nyata kebersamaan, semangat pelayanan, serta rasa persaudaraan dan kepedulian yang kuat antarumat di wilayah Katedral Atambua. Menurutnya, Tri Harta Iman adalah momen untuk saling menguatkan dalam kasih. Dengan berjalan bersama, umat belajar arti dari pembaruan hidup yang sesungguhnya.

Edi juga mengajak seluruh umat untuk terus menumbuhkan iman secara aktif lewat keterlibatan dalam berbagai kegiatan gerejawi serta pelayanan sosial. Ia tidak lupa menyampaikan terima kasih atas keterlibatan seluruh umat dari berbagai lingkungan, para romo/pastor paroki, serta pihak keamanan yang menjaga kekhidmatan prosesi lintas stasi tersebut.
Pantauan media di lapangan menunjukkan prosesi Tri Harta Iman 2026 berlangsung dengan sangat khidmat. Sambil berjalan kaki, umat dengan khusuk mendoakan rosario dan menyanyikan lagu-lagu pujian kudus.
Perarakan akbar ini melewati 4 stasi perhentian, yaitu:
Stasi 1: Lingkungan Santa Klara dari Asisi Kuneru
Stasi 2: Lingkungan Santo Petrus Kanisius Kuneru
Stasi 3: Lingkungan Santo Agustinus Manumutin
Stasi 4: Lingkungan Santa Fransiskus Xaverius Kuneru
Untuk memastikan kelancaran jalannya perarakan, panitia menetapkan rute resmi sebagai berikut :
Titik Awal: Perjalanan dimulai dari Gereja Katedral menuju Sentral, berbelok kanan ke arah Cabang Perpustakaan, lalu mengambil jalur kiri melewati Kuburan Katolik menuju Rumah Sumba.
Menuju Stasi I : Dari pertigaan dekat kediaman Bapak Thomas Neno, perarakan bergerak lurus ke kanan, lalu belok kiri menuju Kapela Kuneru melewati Susteran FSGM, hingga akhirnya tiba di Stasi I.
Menuju Stasi II & III: Dari Stasi I, umat berjalan lurus menuju Cabang Pemancar untuk mencapai Stasi II. Selepas itu, perarakan mengambil jalur lurus menuju Cabang Kantor Lurah Manumutin Lama hingga tiba di Stasi III.
Menuju Stasi IV: Perjalanan berlanjut dari Stasi III melewati kembali Cabang Kantor Lurah Manumutin Lama hingga mencapai Stasi IV.
Titik Akhir: Sebagai penutup, dari Stasi IV umat berjalan melewati depan SMA Stella Gratia menuju jalan besar, kemudian berbelok kiri ke arah Cabang PU. Iring-iringan melintasi depan SMAN 1 Atambua, melewati kantor Perpustakaan, menuju perempatan Sentral, dan akhirnya berbelok kiri untuk masuk kembali ke kompleks Gereja Katedral Atambua.
Rangkaian prosesi rohani di tapal batas negara ini pun berakhir dengan aman, tertib, dan penuh kedamaian.
