Duarato, Belu, 25 September 2026 – Festival Tais Selu Hananu 2026 resmi dibuka di Kampung Adat Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Festival yang berlangsung selama dua hari, pada 25–26 September 2026, ini memasuki tahun kedua pelaksanaannya dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan melalui Program Pemajuan Kebudayaan Desa sebagai bagian dari upaya memperkuat pemajuan kebudayaan berbasis masyarakat.

Festival Tais Selu Hananu lahir dari keyakinan masyarakat Bunaq, khususnya Duarato, bahwa setiap helai tenun dan kehidupan sehari-hari selalu ditemani oleh nyanyian. Bagi masyarakat Duarato, nyanyian bukan sekadar hiburan, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Nyanyian hadir dalam proses menenun maupun dalam berbagai aktivitas masyarakat, menjadi ruang untuk menyampaikan rasa syukur, nasihat, cerita kehidupan, hingga kerinduan kepada anggota keluarga yang telah berpulang. Karena itu, masyarakat tidak hanya ingin mewariskan nyanyian dan kain tenun kepada generasi berikutnya, tetapi juga suara, cerita, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang hidup di balik setiap helainya.
Pembukaan festival dihadiri oleh Judi Wahjudin, S.S., M.Hum., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Turut hadir Brahmantara, S.T., M.A., Kepala Subdirektorat Pemeliharaan dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia; Haris Budiharto, S.Si., M.A., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur; Januaria Nona Alo, S.I.P., Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu; Marius D. Embele, S.E., Camat Lamaknen Selatan; Dedi Luan, Camat Lamaknen; Yoseph Mau Leon, Nai Duarato (Raja Duarato); Gregorius Mau Bere, Kepala Desa Duarato; Remegius Kala, Kapolsek Lamaknen; Emanuel Foni Bula, Kepala Bank NTT Cabang Pembantu Weluli; Danramil 1605-03 Lamaknen; serta masyarakat Desa Duarato dan wilayah sekitarnya.
Pada tahun kedua pelaksanaannya, Festival Tais Selu Hananu memperluas ruang keterlibatan masyarakat. Jika pada tahun sebelumnya kegiatan lebih berfokus pada Kampung Adat Duarato , tahun ini festival melibatkan masyarakat dan jejaring budaya Bunaq yang lebih luas dari wilayah Kecamatan Lamaknen dan Kecamatan Lamaknen Selatan. Keterlibatan SMA Negeri Weluli, SMA Makir, SMP Deubululik, Desa Laununa, Desa Lakmaras, serta anak-anak muda Duarato bersama para eme dan ama menunjukkan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ruang pertunjukan budaya, tetapi juga ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan berbagai generasi dan komunitas dalam satu semangat kebersamaan.

Festival ini tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya di Desa Duarato, tetapi juga menjadi ruang berbagi kebudayaan bagi masyarakat Suku Bunaq yang hidup di berbagai wilayah. Melalui perayaan ini, masyarakat Bunaq dapat kembali bertemu, berbagi cerita, pengetahuan, pengalaman, serta mempererat tali persaudaraan lintas generasi. Anak-anak dan generasi muda memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari para tetua, sementara para ama dan eme memiliki ruang untuk mewariskan pengetahuan, cerita, nyanyian, dan praktik budaya yang telah mereka jaga selama bertahun-tahun.
Selain menyaksikan berbagai pertunjukan budaya, rombongan tamu juga diajak mengikuti kegiatan Jelajah Budaya Duarato, sebuah pengalaman belajar langsung mengenai kehidupan masyarakat Bunaq. Kegiatan ini dimulai setelah prosesi penyambutan Likurai dan Lokrato, kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi rumah-rumah adat dan berinteraksi dengan para eme yang memperagakan proses pemintalan benang (gugul hilik), pewarnaan alami, hingga proses menenun yang masih dilakukan secara tradisional. Melalui pengalaman tersebut, pengunjung dapat melihat secara langsung proses panjang yang melahirkan selembar kain tenun, sekaligus mengenal pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Festival juga menghadirkan Galeri Budaya Bunaq, sebuah ruang belajar yang menampilkan foto cerita, dokumentasi, peta budaya, arsip suara, dan berbagai narasi yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Bunaq, khususnya masyarakat Duarato. Galeri ini mengajak pengunjung mengenal lebih dekat kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari nyanyian, tenun, ritus, pangan lokal, rumah adat, sumber air, hingga praktik-praktik budaya yang masih diwariskan hingga saat ini.
Rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan penyambutan tamu melalui tarian Likurai dan prosesi Lokrato, dilanjutkan dengan pembukaan resmi festival serta peresmian Galeri Budaya Bunaq. Panggung festival kemudian diisi oleh berbagai penampilan dari sekolah-sekolah di kawasan budaya Bunaq, termasuk SD Nualain, SMP Piebulak SMA Negeri Weluli, Desa Henes, Desa Lakmaras, Desa Loonuna, penampilan dari Anak-anak Duarato serta penampilan musik bambu dari SMA Makir.
Melalui Festival Tais Selu Hananu, Duarato membuka ruang seluas-luasnya bagi desa-desa yang masih menghidupi kebudayaan Bunaq untuk hadir, berbagi, dan belajar bersama. Perayaan ini tidak berhenti sebagai sebuah rangkaian kegiatan, tetapi tumbuh menjadi ruang perjumpaan dan persaudaraan masyarakat Bunaq. Duarato tidak hanya merayakan budayanya sendiri, tetapi juga membuka ruang agar kebudayaan Bunaq dapat dirayakan bersama.
Festival Tais Selu Hananu menjadi momentum untuk mempertemukan masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan generasi muda dalam satu ruang bersama. Melalui nyanyian, tenun, cerita, dan praktik budaya yang masih hidup, masyarakat Duarato menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui benda, tetapi juga melalui ingatan, pengetahuan, dan praktik yang terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
