Dukung Kreativitas Anak Perbatasan, Pemkab Belu Buka Lomba Mewarnai di Garuda Sakti Crossborder Fest 2026
Atambua – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu menyatakan dukungan penuh lomba mewarnai tingkat Sekolah Dasar (SD) bagi anak-anak di wilayah perbatasan RI-Timor Leste. Kompetisi edukatif ini menjadi salah satu agenda utama festival Garuda Sakti Crossborder Fest 2026 yang berlangsung di Kota Atambua pada 4 hingga 8 Agustus 2026.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Belu, Drs. Nikolaus Umbu K. Birri, MM, yang mewakili pemerintah daerah di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Rabu (05/08/2026).
Koordinator Crossborder Fest 2026, Edgar Polce Muskanan menjelaskan bahwa festival tahun ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata RI dan Pemerintah Kabupaten Belu. Rangkaian kegiatan sendiri sudah dimulai sejak 4 Agustus dan akan mencapai puncaknya pada akhir pekan ini.
“Kegiatan ini sudah kami sudah mulai sejak kemarin melalui technical meeting. Pada 8 Agustus mendatang, acara ditutup dengan closing ceremony yang dimeriahkan oleh Alfred Gare, Pax Group, serta komedian Abdur Arsyad. Pada momen penutupan tersebut, para pemenang dari berbagai kategori lomba juga akan diumumkan,” kata Edgar.

Edgar merincikan bahwa festival ini memuat beragam kompetisi yang menyasar berbagai tingkatan usia. Pada hari Rabu, festival dibuka dengan lomba mewarnai dan lomba Cerdas Cermat Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah untuk tingkat SD. Selanjutnya, pada Kamis (6/8), akan digelar lomba pidato tingkat SMP dan lomba inovasi. Sementara itu, pada Jumat (7/8), giliran siswa SMA yang berkompetisi dalam lomba tari kreasi, serta lomba paduan suara rohani untuk tingkat gereja.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Belu atas dukungannya mulai dari koordinasi awal hingga pelaksanaan hari ini dapat berjalan lancar,” tutur Edgar.
Selain menjadi wadah kompetisi seni, Edgar berharap ajang ini dapat mengedukasi masyarakat di wilayah perbatasan mengenai kewajiban penggunaan uang Rupiah. Targetnya, masyarakat menjadi lebih kenal, paham cara merawat, serta bijak dalam menggunakan mata uang nasional.
“Dengan kita belanja bijak, kita mulai berhemat dan terus meningkatkan perekonomian daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Belu, Nikolaus Umbu K. Birri dalam arahannya menegaskan kembali komitmen pemerintah daerah dalam menyokong penuh festival lintas batas ini. Menurutnya, Crossborder Fest tidak hanya menjadi panggung hiburan semata, tetapi juga wadah efektif untuk mengasah kreativitas dan menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak sejak usia dini.
“Pemerintah Kabupaten Belu sangat mendukung kegiatan ini. Kami melihat ini sebagai ruang positif bagi anak-anak kita di wilayah perbatasan untuk mengekspresikan bakat seni mereka,” ujar Niko Umbu di hadapan para peserta, guru, dan orang tua yang hadir.

Niko Umbu menambahkan, keterlibatan anak-anak perbatasan memberikan warna humanis di tengah kemeriahan festival lintas negara tersebut. Pemda ingin anak-anak di beranda depan NKRI ini memiliki rasa bangga yang tinggi terhadap tanah air.
“Kami ingin anak-anak di perbatasan Belu merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia. Melalui Crossborder Fest, mereka mendapatkan panggung internasional untuk menunjukkan bakat dan kreativitas mereka,” ungkapnya.
Rangkaian acara hari pertama ini terpantau meriah dengan adanya antusiasme tinggi dari para peserta lomba, guru pendamping dan orang tua. Suasana festival juga semakin hidup dengan kehadiran bazar UMKM lokal.
