Atambua – Pemerintah Kabupaten Belu terus mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian untuk meningkatkan frekuensi tanam dan hasil produksi padi di daerah. Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST melakukan penanaman padi secara simbolis menggunakan mesin rice transplanter dalam rangka peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di lokasi optimalisasi lahan musim tanam II di Dusun Haekrit, Desa Manleten Barat, Kecamatan Tasifeto Timur, Senin (3/8/2026).
Wakil Bupati Belu – Vicente Hornai Gonsalves, ST mengatakan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus berkomitmen memberikan dukungan kepada para petani melalui berbagai program strategis, seperti peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan optimalisasi lahan pertanian.
Menurutnya, peningkatan Indeks Pertanaman tidak hanya bertujuan menfonhkrak produksi pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah serta meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kegiatan ini menjadi wujud komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian. Melalui optimalisasi lahan dan peningkatan frekuensi tanam, hasil panen petani diharapkan semakin meningkat sehingga berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Wakil Bupati juga mengajak seluruh petani untuk terus memanfaatkan lahan pertanian secara optimal serta menerapkan pola tanam yang baik dengan memanfaatkan dukungan pemerintah, baik dalam penyediaan sarana produksi maupun pendampingan dari penyuluh pertanian.
“Harapan saya agar masyarakat segera melakukan pembukaan lahan. Pemerintah daerah siap membantu memberikan benih jagung dan jika ada kendala, segera laporkan ke pemerintah setempat untuk ditindaklanjuti”, harapnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh PPL harus terlibat aktif dalam mendampingi dan mengelola lahan pertanian bersama masyarakat.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Belu, Silvia Celeste Do Amaral, SSTP, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Belu terus mendorong transformasi sektor pertanian dari sistem konvensional menuju pertanian modern. Transformasi ini memanfaatkan teknologi dan mekanisasi guna meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani.
Menurutnya, penanaman padi secara simbolis menggunakan rice transplanter pada Program Optimalisasi Lahan Musim Tanam II merupakan langkah awal untuk memperkenalkan penggunaan alat dan mesin pertanian modern kepada para petani di Kabupaten Belu.

“Sudah saatnya kita beralih menuju pertanian modern sebagaimana yang telah diterapkan di berbagai daerah, seperti di Pulau Jawa. Hari ini kita memulai penanaman padi secara simbolis menggunakan rice transplanter. Alat ini mampu mempermudah proses tanam, menghemat waktu, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, menekan biaya produksi, serta mempercepat waktu panen,” ujar Silvia.
Ia menjelaskan, pada Musim Tanam II tahun ini petani memanfaatkan dua varietas padi unggul, yaitu Pajajaran dan Inpari. Kedua varietas tersebut dinilai cocok untuk musim kemarau karena memiliki masa tanam yang relatif singkat, yaitu sekitar dua bulan hingga panen.
“Kedua varietas ini sangat cocok untuk Musim Tanam II karena tahan terhadap kondisi cuaca panas dan memiliki umur panen yang lebih cepat, sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian,” jelasnya.
Silvia mengatakan, pada tahap awal kegiatan, penanaman dilakukan di lahan seluas sekitar 5 hektare, sementara secara keseluruhan program optimalisasi lahan di wilayah tersebut akan mencakup area seluas hampir 100 hektare.
Selain menyediakan dukungan sarana dan prasarana, Dinas Pertanian Kabupaten Belu juga terus melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani agar mampu mengoperasikan serta memanfaatkan teknologi pertanian modern secara optimal.
“Pendampingan kepada kelompok tani terus kami lakukan. Kegiatan hari ini juga menjadi bagian dari sosialisasi penggunaan alat dan mesin pertanian modern agar petani semakin memahami manfaat mekanisasi dalam meningkatkan efisiensi usaha tani,” katanya.
Ia menambahkan bahwa mekanisasi tidak hanya diterapkan pada proses penanaman, tetapi juga pada tahap pembibitan. Dengan metode pembibitan khusus untuk rice transplanter, proses persemaian menjadi lebih sederhana, praktis, dan membutuhkan biaya yang lebih rendah dibandingkan cara konvensional.
“Pada metode manual, petani harus menyemai benih, kemudian mencabut bibit dengan tenaga kerja yang cukup banyak sehingga memerlukan biaya besar. Dengan sistem pembibitan untuk rice transplanter, proses tersebut menjadi jauh lebih sederhana, efisien, dan hemat biaya,” ungkap Silvia.
Ke depan, Dinas Pertanian Kabupaten Belu juga akan mengembangkan pemanfaatan teknologi drone pertanian untuk kegiatan pemupukan maupun penyemprotan pestisida sebagai bagian dari modernisasi sektor pertanian.
“Kami telah memiliki fasilitas drone pertanian yang ke depan akan dimanfaatkan untuk penyemprotan pupuk maupun pestisida. Dengan penerapan berbagai teknologi ini, kami optimistis sektor pertanian di Kabupaten Belu akan semakin maju, modern, efisien, dan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani,” pungkasnya.
Selain penanaman padi secara simbolis, acara tersebut juga diwarnai dengan Penyerahan bantuan benih padi pada Musim Tanam II secara kangsung oleh Wakil Bupati Belu kepada Para perwakilan kelompok tani penerima manfaat.
