Jemaat GMIT Polycarpus Atambua juga merayakan paskah dengan mengikuti kebaktian yang berlangsung di Gereja Polycarpus Atambua, dipimpin oleh Ketua Majelis Jemaat GMIT Polycarpus Atambua, Pendeta Mery Khatsia T. Lie-Nitbani, S.Th. dengan Tema “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita”
Dalam khotbahnya Pendeta Mery Khatsia T. Lie-Nitbani, S.Th mengatakan berita Paskah bagi segenap orang percaya di dunia yang sedang terluka saat ini adalah “Kristus sudah bangkit”. Kata Paskah sendiri berasal dari bahasa Ibrani Pesach atau Paskah, yang berarti “melewati” atau “menyelamatkan.

Perayaan Paskah di tahun 2026 saat ini, dibingkai dengan tema “Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita,” karena dengan kebangkitan-Nya kita
memperoleh tujuan hidup baru yakni hidup bagi Kristus dan memiliki pandangan baru sebagai ciptaan baru, dengan status baru dalam kebenaran Allah.
“Kita Paskah 2026: Kebangkitan Kristus, Panggilan Menjadi Pembawa Damai di Tengah Konflik”ia yang hancur dan terluka saat ini, untuk dikuasai oleh kasih Kristus dan bukan oleh ketakutan.Firman Tuhan saat ini, mengajak kita untuk memaknai pembaruan oleh kuasa kebangkitan Kristus dalam kemanusiaan kita tentang Paskah,” ucapnya.
Menurutnya ada 2 poin penting dalam Paskah, yang pertama, Paskah adalah waktu untuk rekonsiliasi. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Allah telah mendamaikan manusia dengan diri-Nya sendiri. Paskah berarti jurang pemisah antara Allah yang kudus dan manusia berdosa telah dijembatani oleh pengorbanan Kristus. Dosa kita tidak lagi diperhitungkan melawan kita, karena Kristus telah menanggungnya bagi kita.
“Paskah adalah moment di mana Kristus telah menukar dosa kita dengan kebenaran-Nya, sehingga kita dibenarkan bukan karena perbuatan kita tetapi karena karya Kristus,” tambahnya.
Lebih lanjut ia mengatakan Paskah juga merupakan arti Kemanusiaan yang baru, tidak lagi mengejar kepentingan diri sendiri melainkan hidup untuk memuliakan Tuhan dalam segala tindakan. Karena itu, kita semua diminta untuk tidak lagi menyimpan kepahitan terhadap sesama manusia, tidak lagi memendam amarah dan kebencian yang hanya menyiksa fisik dan batin kita.
“Pembaruan kemanusiaan berarti kita dimampukan untuk mengampuni saat disakiti, berbagi saat kekurangan, dan berdiri teguh saat goyah,” imbuhnya.

Ia menambahkan Paskah mengandung berita sukacita yaitu Keselamaatan hanya ada di dalam nama Yesus Kristus yang mati dan bangkit dari kematian. Siapapun yang ingin diselamatkan harus mengakui dan menerima serta mengimani Yesus Kristus dalam hidup.
“Untuk selamat, manusia harus berdamai dengan Allah dan menerima pengampunan dosa dari Allah di dalam Yesus Kristus. Allah hanya dapat menerima manusia jikalau ia datang kepada-Nya di dalam dan melalui Iman akan Yesus Kristus,” katanya.
Poin Kedua dalam Paskah adalah perayaan hidup sebagai ciptan di dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit, kita sudah diperdamaikan dengan Allah. Kini, Allah mempercayakan pelayanan pendamaian kepada kita. Kita bertindak sebagai utusan Allah, mengajak dan membawa orang lain untuk berdamai dengan Allah.
“Kita dipanggil menjadi pendamai di tengah tengah perseliisihan, pertikaian dan permusuhan yang terjadi di sekitar kita. Kita di dorong untuk memberitakan terus karya pendamain Allah dalam Kristus supaya semua orang hidup berdamai dengan Allah dan boleh menikmati anugerah keselamatan Allah dalam Yesus Kristus,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan Selamat Paskah dan Selamat merayakan pembaruan hidup yang kita terima dari kuasa kebangkitan Kristus bagi semua jemaat yang hadir.
