WORKSHOP BINDING WITH IKAT BAGI PARA PENENUN DI KABUPATEN BELU

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Kamis (20/06), Dekranasda Kabupaten Belu bekerjasama dengan Desainer Indonesia Tutik Handayani dan Desainer Asal Belanda Lio De Bruin, menggelar Workshop Binding With Ikat bagi para pengrajin tenun yang ada di wilayah Kabupaten Belu berlangsung di Galeri Tenun Atambua.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk, orang berdiri dan dalam ruangan

Workshop bagi para pengrajin tenun di Wilayah Kabupaten Belu ini bertujuan untuk memberikan arahan dan pemahaman bagi para pengrajin tentang teknik dan desain pada tenun, workshop ini berlangsung selama 5 hari dengan menggelar berbagai macam kegiatan. Pemateri pertama pada workshop yakni Lio De Bruin – Desainer asal Belanda ini dengan materinya “Binding With Ikat” dan Pemateri kedua yakni Desainer dari Indonesia –Tutik Cholid dengan materinya “Ayo Bangkitkan Tenun Indonesia”.

Gambar mungkin berisi: 1 orang

Ketua Dekranasda Kabupaten Belu – Lidwina Viviawati Ng Lay mengatakan latar belakang Center For Cultural Development Netherlands (CCD-NL) melakukan kerjasama dengan judul project yakni Binding with Ikat, berarti mempersatukan dengan ikat, dengan kata lain kita mempersatukan sejarah dan masa depan, mempersatukan tradisional dan inovasi, filosofi dulu dengan ekonomi sekarang, karena kita tidak terlepas dari sejarah.

Gambar mungkin berisi: 8 orang, orang duduk dan dalam ruangan

Lidwina Viviawati juga menambahkan dalam project ini ada beberapa tahapan dan sudah di launching di Rooterdams dan Jakarta. Dari project ini mereka akan datang untuk melihat, meriset semua tentang kain–kain Belu dan pada bulan November akan melakukan pameran di Belanda dengan membawa serta penenun dan mereka nantinya akan mempresentasikan dengan fashion show. Melalui workshop ini akan di perkenalkan kain–kain yang berasal dari Kabupaten Belu, maupun kain yang berasal dari daerah tetangga yakni dari Kabupaten TTU dan juga dari Negara Timor Leste.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, topi, langit dan dekat

Desainer Indonesia – Tutik Cholid menyampaikan tenun-tenun antik dan klasik yang dipamerkan ini ada kaitannya dengan riset dan kerjasama CCD-NL dan Asia (Asosiasi Sutra Indonesia) dan Dekranasda Belu dengan mengeluarkan koleksi–koleksi antik maupun yang baru dan sudah di review. Ini merupakan salah satu peluang yang sangat bagus dan Kabupaten Belu terdapat 12 Kecamatan yang masing–masing memiliki story yang sangat luar biasa dan kita pelajari, susun kembali sehingga kita bisa kembangkan sesuai dengan sejarahnya masing–masing.

Selanjutnya Lio De Bruin seorang Desainer dari Negara Belanda juga mengatakan untuk pertama kali saya melihat kain tradisional Belu dipamerkan dan sangat indah. Kain–kain ini indah, menarik dan memiliki makna yang luar biasa dan pasti dibuat dengan penuh kesabaran, semangat dan kaya akan nilai budaya.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang duduk dan orang berdiri

“Saya berharap anak–anak muda juga bisa belajar lebih giat lagi khususnya dalam menenun dan saya juga seorang desainer yang berhubungan dengan bahan tekstur dan serat alam, dan saya datang ke Belu dalam beberapa hari ini untuk melihat cara membuat kain tenun di belu seperti apa, sehingga sepulangnya saya dari Kabupaten Belu saya akan mengeluarkan ide–ide baru yang di gunakan untuk memperkenalkan produk tenun ikat di belu dan selanjutnya saya bersama desainer Indonesia dan Ibu vivi akan melihat pameran produk Belu yang akan di pamerkan di Belanda,” kata desainer asal Belanda.

Kegiatan workshop di hari kedua ini juga akan dilakukan kegiatan proses menenun bertempat di Galeri Tenun Atambua.

Berita /Foto : Asih Mukti & Andy Luan

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.