PPSE KEUSKUPAN ATAMBUA GANDENG CRS LAKUKAN PENGUATAN KETAHANAN PANGAN KELUARGA DI WILAYAH PERBATASAN

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Rabu (22/05), Pertemuan Pembelajaran Tahunan Tampik Project yang diselenggarakan oleh Catholik Relief Services (CSR) bekerjasama dengan Panitia Pengembangan Sosial Ekonomi (PPSE) Keuskupan Atambua, dibuka secara resmi oleh Bupati Belu – Wilybrodus Lay, SH didampingi Pimpinan CSR Indonesia – Yenni Suryani dan Program Maneger PPSE Keuskupan Atambua – Helmy. Pertemuan yang mengangkat tema “Kami mulai dari apa yang kami miliki, kami lakukan dari apa yang kami bisa dan kami lanjutkan dengan tekad dan pembelajaran untuk tangguh” ini berlangsung dari tanggal 22 s/d 23 Mei 2019, bertempat di Wisma Emaus, Desa Naekasa, Kabupaten Belu.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

Pertemuan Pembelajaran Tahunan Tampik Project ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan keluarga dan program peningkatan kapasitas lembaga mitra kerja lokal dalam kesiapsiagaan bencana, tanggap darurat dan penggurangan resiko bencana termasuk adaptasi terhadap perubahan iklim serta kegiatan tanggap darurat pada saat terjadi bencana. Pertemuan ini melibatkan pelopor kelompok tani dari 10 desa diantaranya, Desa Henes, Desa Lakmaras, Desa Debululik, Desa Ekin, Desa Mahuitas, Desa Kewar, Desa Aitoun, Desa Asumanu, Desa Raifatus, Desa Dualasi Raiulun.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang tersenyum, orang duduk

Dalam sambutannya, Bupati Belu – Willybrodus Lay, SH memberikan apresiasi kepada CSR yang telah mendampingi 10 Desa yang ada di wilayah Kabupaten Belu.

“Berbagai masalah seperti angin dan musim tanam yang tidak menentu, gagal panen, serta bencana lainnya merupakan masalah pokok yang di alami di wilayah Kabupaten Belu, sudah 3 tahun didampingi CSR seharusnya masyarakat sudah harus bisa untuk hidup mandiri. Pada kesempatan ini saya ingin membuka satu wawasan berpikir kepada para petani bahwa di era globalisasi industri, globalisasi pertanian dan globalisasi peternakan yang artinya dunia ini sudah tidak ada skat atau batas,” ungkap Bupati Belu.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, tabel dan dalam ruangan

Lanjut Bupati, “Orang akan datang ditempat –tempat yang efisien dan menguntungkan serta tempat investasi usaha yang lebih maju, yakni dengan membuat produk pertanian unggulan koorperatif yang bisa kita hasilkan dan kita harus berpikir bagaimana kita bisa memasuki sektor-sektor industri tersebut untuk kemajuan perekonomian masyarakat kita,” Katanya.

Selain Bupati, Pimpinan CSR Indonesia – Yenni Suryani juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini untuk meninjau apa saja yang telah dilakukan selama 3 Tahun ini, CSR melakukan pendampingan, pemilihan lokasi, pemilihan kelompok tani, serta untuk mengetahui apa saja yang dihasilkan, capaian yang telah dilakukan oleh petani dan tantangan apa saja yang dialami oleh petani, serta pembelajaran ini akan di bawa untuk program selanjutnya dan mungkin akan di bawa ketempat lain. Dan melalui program ini, CSR akan tetap mendampingi para petani untuk eksis strategi, kurang lebih selama 6 bulan kedepan kita persiapakan petani agar mereka siap ditinggalkan.

Gambar mungkin berisi: 8 orang, orang makan, orang berdiri, makanan dan dalam ruangan

Selanjutnya, Yenni juga menambahkan untuk 10 desa ini merupakan desa yang paling parah sesuai dengan dampak bencana, seperti angin kencang ini sudah ada rangkingnya, dan diharapkan masyarakat sudah siap untuk mandiri. Kendala yang dihadapi yakni membuat masyarakat percaya, dengan cara menggunakan metode pertanian modern. Sehingga masyarakat tahu perbedaan hasil yang di peroleh, dengan begitu masyarakat dapat beradaptasi dalam berbagai perubahan cuaca seperti sekarang ini dan pendampingan ini kedepan akan terus dilakukan di desa–desa lainnya.

Gambar mungkin berisi: 8 orang, orang tersenyum, orang berdiri, dalam ruangan dan makanan

Usai membuka kegiatan Pertemuan Pembelajaran Tahunan Tampik Project, Bupati Belu melakukan peninjauan stan–stan produk unggulan hasil pertanian yang ada di 10 desa binaan dari Catholik Relief Services (CSR).
Berita/Foto: Asih Mukti & Jun Naibuti

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.