PENGELOLAAN DESTINASI PARIWISATA YANG TERSTRUKTUR DAN SINERGIS

Facebookyoutubeinstagram

KOMINFO KAB. BELU – Kamis (23/05),Pengelolaan Destinasi Pariwisata yang terstruktur dan sinergis ini merupakan lanjutan dari pelatihan tata kelola destinasi pariwisata yang berlangsung di Aula Hotel Nusantara Dua Atambua pada hari Selasa, 21 Mei 2019 lalu. Keberadaan sektor pariwisata dalam suatu wilayah dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Namun pada dasarnya tergantung pada manajemen dan tata pengelolaan kepariwisataan yang diperankan oleh segenap pemangku kepentingan baik dari unsur pemerintah, swasta/industri masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Pengelolaan destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis mencakup fungsi koordinasi, perencanaan, implementasi dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistematik.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk, orang berdiri dan dalam ruangan

Hadir sebagai pemateri pelatihan itu, Kepala Desa Tebara – Marthen Ragowino Bira, S.S mengatakan desanya sudah cukup maju dalam hal pengelolaan destinasi wisata budaya di Provinsi NTT dengan kampung adat Praiijing, di Kabupaten Sumba Barat. Dengan adanya dana desa yang cukup signifikan dari pemerintah pusat, diharapkan bisa mandiri dengan salah satu bagian pariwisata yang menjadi penggerak utama.

“Peningkatan kualitas SDM sebagai pelaku pariwisata perlu ditingkatkan, contohnya kampung adat Praiijing, salah satu wisata budaya yang sudah cukup maju. Ada dua hal yang terus di pertahankan, yaitu budaya dan wisata, dimana budaya tetap pertahankan pelestarian keasliannya dan wisata juga mau tidak mau melihat keinginan dari para wisatawan yang berkunjung baik dalam hal kenyamanan, kebersihan, dan pelayanan kebutuhan wisatawan yang modern, seperti penyatuan modernisme dengan salah satu keaslian budaya kita. Sistem pengelolaan manajemen pariwisata yang teratur seperti sebagai penerima tamu, sebagai penjaga loket, sebagai juru parkir dan lain-lain,” kata Kepala Desa Tebara.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang duduk, orang makan, tabel dan dalam ruangan

Lanjut Marthen,“ untuk mengelola destinasi wisata yang baik harus berdasarkan dengan legal standing, sehingga dapat independensi dalam mengelola wilayah sendiri. Seperti bagaimana hukumnya dalam tata kelola destinasi wisata budaya yang baik, mendokumentasikan adat budaya lewat buku atau tulisan sehingga tidak dilupakan. Selain itu masyarakat dapat memulainya dengan sapta pesona salah satunya kebersihan yang baik,” kata Kepala Desa Tebara yang juga merupakan salah satu praktisi pariwisata ini.

Salah satu peserta pelatihan tata kelola destinasi pariwisata, Gregorius Mau Bere menyampaikan untuk meningkatkan potensi yang ada di desa, dimana potensi tersebut dalam konteks pengembangan mengarah pada salah satu tempat yang bisa menarik para wisatawan. Gregorius juga menambahkan bahwa salah satu contoh yang ada di desanya seperti kampung adat Duarato dimana pada Tahun 2019 ini akan dibuka satu jalan baru dari arah timur menuju puncak kampung adat yang didanai oleh dana desa, termasuk beberapa tempat destinasi wisata budaya yang ada di wilayah Desa Duarato.

Disela-sela kegiatan Gregorius juga menyampaikan “terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Belu dalam hal ini Dinas Pariwisata Kabupaten Belu yang telah melaksanakan pelatihan tata kelola destinasi pariwisata bagi para pemerintah desa dan para pelaku usaha destinasi wisata budaya. Dirinya berkomitmen akan membangun dan menata destinasi budaya yang ada di desanya dengan anggaran dana desa.

“Ini kelihatannya rame dimana para pemerintah desa yang hadir mengikuti pelatihan ini sedang berkobar-kobar untuk mengembangkan potensi-potensi didesanya masing-masing dalam membangun destinasi wisata budaya dengan masing-masing anggaran desa,” kata Kepala Desa Duarato ini.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk, pohon, tabel dan luar ruangan Gambar mungkin berisi: 6 orang, orang tersenyum, orang duduk dan luar ruangan

Sebagai bahan pembelajaran dalam pelatihan tata kelola destinasi wisata budaya para peserta melakukan kunjungan kerja ke kampung adat matabesi dimana masih terdapat beberapa pelestarian rumah adat dan cagar budaya yang masih tetap mempertahankan keaslian pelestarian budayanya. Hadir dalam kunjungan ke kampung adat matabesi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, Remigius Asa, SH para Kepala Bidang dan para staf Dinas Pariwisata Kabupaten Belu.

Foto/Berita: Bene Luan & Andi Luan

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.