PEMERINTAH KABUPATEN BELU MELALUI DINAS PETERNAKAN INSTRUKSIKAN MASYARAKAT PERBATASAN WASPADAI VIRUS ASF

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Kamis (10/10), Sebagai upaya untuk mengantisipasi virus African Swine Fever (ASF) diwilayah Kabupaten Belu, Perbatasan Timor Leste perlu adanya sosialisasi atau pemberian informasi kepada masyarakat luas agar masyarakat dapat mengetahui lebih dini sehingga terhindar dari virus tersebut.

Menurut Drs. Nikolaus Umbu K. Birri, MM selaku Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu saat ditemui diruang kerjanya menyampaikan, Penyakit atau African Swine Fever (ASF) atau yang biasa disebut dengan demam babi Africa, penyakit ini di Indonesia memang belum ada, namun penyakit ini sudah menyebar hingga ke wilayah negara Cina pada umumnya.

“ Terakhir sesuai informasi yang kami peroleh dari Badan Feterina Timor Leste, ternyata virus ini sudah sampai di Timor Leste. ASF ini beda dengan virus Clasical Swine Fever (hoc cholera) dan virus ini jika sudah kena pada babi, maka hampir 100 persen mematikan. Dan sampai saat ini vaksin dan obat – obatan belum ada. Namun karena sudah ada wabah di Timor Leste maka sesuai instruksi atau surat edaran dari Menteri Pertanian yang membidangi peternakan bahwa sudah seharusnya di lakukan upaya-upaya pencegahan, dimana pencegahan ini dapat dilakukan lewat Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE),” kata Kadis.

ASFV adalah virus mematikan dan menular sangat cepat, namun ASF tidak menular ke manusia. Adapun ciri-ciri ternak babi yang terinfeksi ASF yakni demam tinggi dan kulit memerah, hilang nafsu makan, muntah, batuk berdarah, hidung berlendir, pendarahan pada kulit dan organ dalam, lemas dan gangguan koordinasi alat gerak.

Sesuai Instruksi Bupati untuk pencegahannya, dilarang ternak babi beserta produk olahannya mulai dari sosis, dendeng dan produk olahan lainnya yang berasal dari Timor Leste tidak boleh masuk ke Indonesia. Dan menghimbau kepada masyarakat dan para peternak babi, baik yang dilepas maupun yang didalam kandang, apabila mengetahui gejala –gejala sakit sebagaimana disebutkan diatas maka diharapkan untuk segera dilaporkan ke petugas dilapangan atau ke Dinas Peternakan Kabupaten Belu.

Sementara itu ketika diwawancarai Kabid Keswan, Kesmak dan Pemasaran pada Dinas Peternakan Kabupaten Belu –Vinsent Yulius Bere, S.Pt., MM mengungkapkan terkait virus ASF yang terjadi di Timor Leste yang harus diketahui bahwa media penularan dapat terjadi melalui kontak langsung antar ternak babi terinfeksi dengan ternak babi yang sehat, bisa saja langsung terjadi di alam bebas. Kedua penularan melalui media yang tidak langsung misalnya melalui manusia ketika manusia yang sudah terinfeksi Virus ini bisa melekat pada pakaian sepatu bahkan kendaraan ketika mereka masuk ke wilayah Indonesia atau membawa bahan-bahan olahan dari daging babi.

Sebagai upaya yang dilakukan saat ini adalah memberikan penyuluhan dengan mengoptimalkan pos-pos Kesehatan Hewan, penyebaran informasi melalui brosur ditempat-tempat keramaian, membuat himbauan dirumah-rumah ibadat, dll. Kami juga berkoordinasi dengan teman-teman di pos penjagaan RI-RDTL pada pintu masuk yang tidak resmi supaya memastikan bahwa pelintas batas yang masuk ke wilayah Indonesia dipastikan tidak membawa ternak babi yang hidup maupun daging segar ataupun olahannya.

Sejauh ini memang ada informasi babi yang mati. Kami tindaklanjuti dengan menurunkan dokter hewan untuk mengambil sampel dilapangan untuk didiagnosa, namun sampai saat ini kita belum bisa memastikan hewan ternak tersebut mati karena terinfeksi Virus dan untuk memastikan penyebab virus tersebut harus melalui uji laboratorium.
Sedangkan jumlah populasi ternak di Kabupaten Belu berdasarkan Sensus 2018 mencapai 56.000 lebih, karena ternak babi itu sekali beranak bisa lebih dari 1 ekor sehingga ditaksir bisa mencapai 65.000 ekor. Bisa dibayangkan jika terserang wabah ASF, secara ekonomi berdampak pada pendapatan para peternak. Oleh karenanya upaya pencegahan perlu dilakukan oleh seluruh petugas lapangan, peran aktif masyarakat maupun stake holder lainnya.

Usai wawancara Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Kabid Keswan, Kesmak dan Pemasaran pada Dinas Peternakan Kabupaten Belu – Vinsent Yulius Bere, S.Pt., MM. menyerahkan Brosur kepada staf Dinas Kominfo Kabupaten Belu untuk membantu menyebarluaskan informasi terkait virus ASF kepada masyarakat.

Berita / Foto: Asih Mukti & Bene Luan

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.