KEMISKINAN DAN MINIMNYA PENDIDIKAN JADI PEMICU TINGGINYA PEKERJA MIGRAN

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Kamis (25/07), Selama hampir sepekan, para Uskup, Pastor, Suster, dan Awam Katolik se- Nusa tenggara (Nusra) melaksanakan Pertemuan Pastoral (Perpas) XI bertempat di Hotel Matahari Atambua, Wilayah Perbatasan RI-RDTL.

Gambar mungkin berisi: dalam ruangan

Pertemuan yang digelar setiap Tiga tahunan sekali ini dilaksanakan sejak Senin, 22 Juli – Sabtu 27 Juli 2019 mendatang, dibawa tema umum “Gereja Nusa Tenggara Peduli Migran dan Perantau”.

Memasuki hari keempat pertemuan ini seluruh peserta Perpas terdiri dari Uskup, Pastor, Suster dan awam Katolik Regio Nusra ini dibagi dalam bentuk kelompok diskusi pleno, masing – masing kelompok berkumpul mendiskusikan masalah – masalah Migran dan Perantau. Dalam diskusi pleno ini setiap kelompok mendalami dan mendiskusikan isu – isu atau topik – topik yang sudah disepakati bersama dalam sidang akbar ini diantaranya masalah penyebab terjadinya Migran dan Perantau, menemukan pendasaran – pendasaran Teologis Biblis sehubungan dengan persoalan Migran dan Perantau, serta sikap dan harapan gereja terhadap pemerintah berhadapan persoalan Migran dan Perantau.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, telepon

Salah satu peserta utusan Keuskupan Denpasar, Blasius Naya Manuk, ketika ditemui usai mempresentasikan hasil diskusi kelompok kepada seluruh peserta Perpas XI ini kepada media Kominfo Belu mengatakan Persoalan yang sering menjadi pemicu tingginya jumlah pekerja migran dan perantau, atau persoalan yang dominan terjadi, seperti Migran atau Perantau tidak memiliki dokumen saat pergi merantau.

‘’Tentang persoalan Migran dan Perantau yang pergi merantau tidak memiliki dokumen, itu yang menjadi soal, tidak hanya di Daerah asal, di Daerah Transit , bahkan di daerah tujuan. Akibatnya mereka (Migran dan Perantau) tidak bisa mencari kerja dengan baik karena banyak tekanan dan ketakutan yang dihadapi, ’’ Ujarnya.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang tersenyum, orang duduk dan dalam ruangan

Tidak hanya itu, persoalan kemiskinan, minimnya pendidikan dan keterampilan juga menjadi persoalan yang membuat migran gampang ditipu. Dan bahkan gaya hidup (Life Style) pun menjadi akar permasalahan.

‘’Sesungguhnya akar permasalahan itu ada pada kemiskinan atau ketidak mampuan dan juga rendahnya pendidikan,’’ jelasnya.

Diharapkan melalui Perpas ini seluruh masyarakat menyadari aturan Migran dan Perantau yang benar sesuai prosedur, sehingga tidak mudah ditipu.
Foto/Berita: Norci Man

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.