KEADAAN GEOGRAFIS

KEADAAN GEOGRAFIS & IKLIM  GEOGRAPHIC CONDITION & CLIMATE

Luas wilayah administrasi Kabupaten Belu adalah 1.284,94 km2 atau  128. 494 Ha dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:

·      Sebelah Utara : berbatasan dengan Selat Ombai
·      Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Malaka
·      Sebelah Timur : berbatasan dengan negara Republic Demokratic Timor Leste (RDTL)
·      Sebelah barat : berbatasan dengan wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU)

Kabupaten Belu terbagi atas 12 Kecamatan, 69 Desa dan 12 Kelurahan. Kecamatan dengan wilayah terluas adalah Kecamatan Tasifeto Barat dengan luas wilayah 224,19 kmatau 17,45% dari luas wilayah Kabupaten Belu.Sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Atambua Barat dengan luas wilayah 15,55 km2 atau 1,21% dari luas wilayah Kabupaten Belu seperti tertera pada Tabel berikut ini.

Luas Wilayah Kabupaten Belu Tahun 2015

No Kecamatan Jumlah

Desa/Kelurahan

Luas Wilayah (Km2) Prosentase (%)
1 Raimanuk 9 179.42 13.96
2 Tasifeto Barat 8 224.19 17.45
3 Kakuluk Mesak 6 187.54 14.6
4 Nanaet Duabesi 4 60.25 4.69
5 Kota Atambua 4 24.90 1.94
6 Atambua Barat 4 15.55 1.21
7 Atambua Selatan 4 15.73 1.22
8 Tasifeto Timur 12 211.37 16.45
9 Raihat 6 87.20 6.79
10 Lasiolat 7 64.48 5.02
11 Lamaknen 9 105.90 8.24
12 Lamaknen Selatan 8 108.41 8.44
Total 81 1.284.94 100.00
SumberRPJMD Kabupaten Belu Tahun 2016-2021

 2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis

Posisi astronomis Kabupaten Belu terletak antara koordinat 124º 40’ 33” BT– 125º 15’ 23”  BT dan 08º 70’ 30” LS  – 09º 23’ 30”  LS. Kabupaten Belu adalah salah satu Kabupaten dari 6 (enam) Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terletak di daratan Pulau Timor.  Posisi geografis Kabupaten Belu  dalam daratan Timor Provinsi NTT adalah di bagian paling Timur  dan berbatasan darat langsung sepanjang 149,1 Km dan berada di jalur perlintasan internasional dengan  Negara RDTL. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 179 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi Nusa Tenggara Timur disebutkanjumlah desa yang berbatasan darat dan laut secara langsung dengan negara RDTL adalah sebanyak 11 Kecamatan dan 44 Desa  seperti  pada Tabel  berikut ini.

Jumlah Desa Perbatasan di Kabupaten Belu Tahun 2016

No Kecamatan Desa Jumlah
1 Tasifeto Barat Desa Lookeu 1
2 Nanaet Duabesi Desa Nanaenoe dan Fohoeka 2
3 Tasifeto Timur Desa Dafala, Takirin, Tulakadi, Silawan, Sadi, Sarabau  dan Fatubaa 7
4 Lasiolat Desa Maneikun, Lasiolat, Baudaokdan Fatulotu 4
5 Raihat Desa Asumanu, Tohe, Maumutin 3
6 Lamaknen Desa Lamaksanulu, Makir, Mahuitas, Kewar, Duaratodan Maudemu 6
7 Lamaknen Selatan Desa Henes, Lakmaras, Loonuna, Lutarato, Sisi Fatuberaldan Debululik 6
8 Kakuluk Mesak Desa Fatuketi, Dualaus dan Kenebibi 3
9 Kota Atambua Kelurahan Kota, Tenukiik, Fatubenao dan Manumutin 4
10 Atambua Barat Kelurahan Beirafu, Tulamalae, Umanen dan Berdao 4
11 Atambua Selatan Kelurahan Fatukbot, Rinbesi, Manuaman dan Lidak 4
  Jumlah 44

SumberRPJMD Kabupaten Belu Tahun 2016-2021

Topografi

Keadaan topografi Kabupaten Belu bervariasi antara ketinggian 0 sampai  dengan +1500 m.dpl (meter di atas permukaan air laut). Variasi ketinggian rendah (0-150 m.dpl) hanya sebagian kecil di bagian utara. Sementara pada bagian tengah wilayah ini terdiri dari area dengan dataran sedang (200-500 m.dpl). Dataran tinggi di Kabupaten Belu ini hanya menempati kawasan pada bagian timur yang berbatasan langsung dengan negara RDTL. Zona-zona dataran rendah ini, sebagian besar digunakan sebagai areal pertanian dan kawasan peternakan. Bentuk topografi wilayah Kabupaten Belu merupakan daerah datar berbukit-bukit hingga pegunungan. Keadaan kemiringan lahan wilayah Kabupaten Belu dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) kelas dengan masing-masing lokasi sebagai berikut:

  1. Kemiringan lereng 0-8 %, yang merupakan dataran landai, terdapat di pesisir pantai Utara dan sekitar Kecamatan Kakuluk Mesak, Kecamatan Kota Atambua, Atambua Selatan dan Atambua Barat.
  2. Kemiringan lereng 8-15%, merupakan daerah datar yang meliputi sebagian Kecamatan Tasifeto Barat.
  3. Kemiringan lereng 15-25%, yaitu daerah landai atau bergelombang yang meliputi daerah lembah yang terletak diantara pegunungan, terdapat di Kecamatan Raihat, Lasiolat, Lamaknen, Raimanuk dan bagian Timur Kecamatan Tasifeto Barat.
  4. Kemiringan lereng 25-40%, yaitu daerah yang bergelombang dan berbukit terdapat di di Kecamatan Tasifeto Timur, Nanaet Duabesi, Lamaknen, Lamaknen Selatan, Lasiolat kemudian di bagian tengah kabupaten terdapat di Kecamatan Raimanuk.
  5. Kemiringan lereng di atas 40%, terdapat di sebagian Kecamatan Nanaet Duabesi, Lasiolat dan sebagian besar di Kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan.

Geologi

Adapun jenis batuan yang dijumpai di Kabupaten Belu dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Kompleks Mutis : Kompleks Mutis dijumpai di Kecamatan Tasifeto Timur dan Kecamatan Lamaknen.
  2. Kompleks Maubesi : Banyak dijumpai di Kecamatan Tasifeto Timur dan Kecamatan Tasifeto Barat.
  3. Formasi Bisene : Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Barat dan Kecamatan Lamaknen.
  4. Formasi Aitutu : Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Barat dan Kecamatan Tasifeto Timur. Bagian bawah terdiri dari selang-seling batu dengan Nepal dan batu gamping. Bagian atas terdiri dari pergantian pelapisan kolsilulit (batu gamping serpihan) dengan serpih yang berwarna kelabu. Berumur trias akhir.
  5. Kompleks Bobonaro : Terdiri dari dua satuan batuan yaitu lempung serpihan dan bongkahan-bongkahan asing yang bermacam-macam jenis dan ukuran. Kontak dengan formasi di atasnya adalah tektonik (ketidaksejaaran). Berumur Myosin tengah sampai Pilosen. Kompleks Bobonaro banyak dijumpai di Kecamatan Tasifeto Timur dan Kecamatan Tasifeto Barat.
  6. Formasi Manamas : Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Barat.Formasi ini mempunyai struktur geser dan patahan naik.
  7. Formasi Viqueque : Formasi ini jumpai di Kecamatan Tasifeto Barat, Lamaknen, Raihat, dan Tasifeto Timur.
  8. Formasi Noele : Terdiri dari Napal pasiran berselang-seling dengan batu pasir, konglomerat dan sedikit tuff desit. Berumur Plio-pleistosin.
  9. Formasi Batu Gamping Coral : Terdiri dari batu gamping berwarna putih dan batuan gamping napalan setempat berkembang batu gamping terumbu berkoral. Berumur quarter.
  10. Formasi Raised Coral Reef : Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Timur. Hasil pelapukan formasi ini membentuk tanah jenis rendzina yang dihuni oleh tumbuhan semak terpencar, maka formasi ini termasuk dalam kategori erosi sedang dan kemungkinan besar dijumpai sungai-sungai bawah tanah hasil pelarutan dari air dengan karbontan tersebut.
  11. Endapan Alluvial : dijumpai di sepanjang sungai di Kabupaten Belu berupa gosong-gosong pasir. Endapan alluvial pantai dijumpai sepanjang pantai utara berupa pasir pantai, sedangkan endapan teras-teras tua merupakan endapan purba dari sungai-sungai purba. Terdiri dari pasir, kerikil, kerakal. Berumur quartal.
  12. Satuan Morfologi Datar-Agak Datar : Satuan ini terletak di bagian selatan Kabupaten Belu memanjang sampai tenggara pada pesisir laut Timor dengan kemiringan kurang dari 2 %.
  13. Satuan Morfologi Datar Berombak-Ombak : Satuan ini terletak di bagian tengah memanjang ke utara dengan kemiringan 3-6%. Aktifitas gelombang pantai telah berkurang dan faktor erosi sudah mulai kelihatan. Satuan ini menyebar di Kota Atambua, Tasifeto Timur, dataran Maubusa dan Lamaknen.
  14. Satuan Morfologi Bergelombang : Terletak di bagian Utara dan sebagian kecil di tengah, kemiringan 27-50 %. Faktor erosi berperan aktif baik di permukaan tanah maupun oleh pengerjaan sungai. Tanah akan aktif jika curah hujan tinggi. Wilayah satuan ini meliputi Tasifeto Barat dan Tasifeto Timur.
  15. Satuan Morfologi Berbukit-Bergunung : Berkisar 1300 – 3000 Karena sifat fisik dan morfologinya maka formasi ini mempunyai tingkat erosi yang tinggi dan cukup baik sebagai penyimpan air tanah.

Jenis tanah di Kabupaten Belu adalah :

  • Tanah Alluvial dijumpai di Kecamatan Kota Atambua.
  • Tanah campuran Alluvial dan Latosol dijumpai di Kecamatan Kakuluk Mesak, Lamaknen Selatan, Nanaet Dubesi dan Raimanuk.
  • Tanah Latosol tersebar merata di wilayah Kabupaten Belu.
  • Campuran tanah Meditera, Renzina dan Grumosol tersebar merata di wilayah Kabupaten Belu.

 Hidrologi

  • Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu  wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. DAS di Kabupaten Belu  didominasi oleh topografi dengan kelas lereng yang termasuk kategori agak curam dengan kemiringan 26-40 %, sehingga sangat peka terhadap erosi. Pola aliran DAS tersebut bersifat dendritik dengan kerapatan aliran air bersifat tergenang diantaranya adalah :  DAS Hasfuik Maubesi,  DAS Fatuketi, DAS Selowai, DAS Umaklaran, DAS Dualaus, DAS Manukakae, DAS Silawan,  DAS Lasiolat,  DAS Dualasi,  DAS Bauho,  DAS Lamaksanulu, DAS Talau, DAS Lamaknen,  dan DAS Duarato.

  • Ketresediaan Air Sungai

Sungai-sungai yang ada di Kabupaten Belu mengalir ke utara dan selatan mengikuti arah kemiringan lereng, sehingga membentuk Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) ataupun DAS mikro. Sungai yang ada memiliki rata-rata panjang aliran 10 -50 km dengan anak sungai membentuk orde yang bersifat horton dan shreve. Pada umumnya sungai-sungai ini mempunyai fluktuasi aliran air yang cukup tinggi pada musim penghujan berair dan sering terjadi banjir dengan pola aliran air sepanjang tahun (perenial),mengalir hanya pada musim hujan saja (intermiten); sedangkan pada musim kemarau kestabilan airnya berkurang bahkan ada yang tidak berair sama sekali  atau berair pada waktu datang hujan saja (ephemeral). Terdapat 8 (delapan) sungai yang berada di Kabupaten Belu sebagaimana tercantum pada tabel berikut ini

Nama dan Panjang Sungai di Kabupaten Belu Tahun 2013

No Kecamatan Nama Sungai Panjang (Km)
1 Tasifeto Barat Motabuik 40
Luradik 10
2 Tasifeto Timur Baukama 45
Baukoek 10
Motamuru 15
3 Lamaknen Welulik 18
Malibaka 50
4 Kota Atambua Talau 50
Sumber :RPJMD Kabupaten Belu Tahun 2016-2021

 

  • Ketersediaan Mata Air

Sumber mata air di Kabupaten Belu termasuk tipe air tanah yang diremajakan yaitu air yang untuk sementara waktu telah dikeluarkan dari daur hidrologi oleh pelapukan, maupun oleh sebab-sebab lain dan kembali ke daur hidrologi lagi dengan proses-proses metamorfis. Jumlah ketersediaan sumber mata air  sebanyak ± 604 sumber mata air yang tersebar di 12 Kecamatan, dimana 45 % sumber mata air dapat mengeluarkan air sepanjang tahun dan tidak dipengaruhi oleh curah hujan (perenial springs) dengan kondisi ketersediaan air cukup baik; dan sebanyak 35 % sumber mata air bersifat musiman karena mengeluarkan air hanya pada musim tertentu dan tergantung pada curah hujan (intermitent springs), dengan kondisi ketersediaan air sedikit serta 20 % sumber mata air yang kering di musim kemarau dan dapat mengeluarkan air pada periode tertentu saja (periodic springs).

 

  • Ketersediaan Tampungan Air

Tampungan air yang ada di Kabupaten Belu berupa embung sebanyak 53 unit yang tersebar di 10 Kecamatan dan digunakan untuk kebutuhan air baku, irigasi dan kebutuhan bagi ternak maupun usaha pertanian tanaman hortikultura (sayuran). Embung Naekasa di Desa Naekasa kondisi air tanah sudah jenuh sehingga sudah mirip kolam dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya untuk memelihara ikan air tawar seperti Nila, Gabus dan Mujair.

 

Klimatologi

 

Daerah Kabupaten Belu umumnya memiliki rata-rata suhu sebesar 27,6o C dengan interval suhu 21,5o– 33,7oC. Temperatur terendah (21,5oC) terjadi pada bulan Agustus dan temperatur tertinggi (33,7oC) terjadi pada bulan November.

Sesuai dengan klasifikasi iklim oleh Schmidt dan Ferguson,Kabupaten Belu termasuk wilayah iklim tipe D  (iklim semi arid) atau beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau dan hujan. Curah Hujan (CH) rata-rata selama 5 tahun (2011-2015) sebesar 209 mm/bulan dengan jumlah Hari Hujan (HH) adalah 8 hari/bulan seperti tertera pada Tabel 2.4 dan Gambar 2.1.Arus angin pada bulan Juni – September berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya arus angin pada bulan Desember – Maret banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April – Mei dan Oktober – November. Walaupun demikian mengingat wilayah Kabupaten Belu dekat dengan  benua Australia, arus angin yang banyak mengandung uap air dari Asia dan Samudera Pasifik sampai di wilayah Belu semakin berkurang yang mengakibatkan hari hujan di Kabupaten Belu lebih sedikit dibanding wilayah yang dekat dengan Asia. Hal ini menjadikan Kabupaten Belu sebagai wilayah yang tergolong hanya 4 (empat) bulan basah yaitu bulan Desember, Januari, Febuari, dan Maret serta 8 (delapan) bulan sisanya relatif kering.

Data Curah Hujan (CH) di Kabupaten Belu Tahun 2011-2015

TAHUN JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2011 490 526 350 390 51 0 0 0 0 246 152 453
2012 288 199 476 111 106 0 0 0 24 28 56 439
2013 964 650 516 290 332 373 435 2 28 127 422 862
2014 590 346 260 187 89 17 14 0 0 0 41 478
2015 409 133 253 140 8 10 0 0 0 0 0 178
RATA2 548 371 371 224 117 80 90 0 10 80 134 482

Sumber RPJMD Kabupaten Belu Tahun 2016-2021

Berdasarkan hasil pengamatan dari Pos Pengamatan Klimatologi Bandara Udara A.A. Bere Tallo – Haliwen pada tahun 2015 bahwa : arah angin dominan berasal dari Utara dan Barat dengan rata-rata kecepatan berkisar antara 6-8 knot/jam. Kelembaban udara nisbi terjadi pada bulan Juli – Agustus dengan kisaran antara 67-70 %. Sedangkan  intensitas penyinaran matahari maksimun yang terjadi pada bulan September dengan rata-rata antara 78-84 %.

2.1.1.7 Hidro-Oceanografi

  1. Gelombang : Hasil studi Rencana Induk Pelabuhan Atapupu, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan (2014) menunjukkan bahwa di laut dalam arah gelombang paling dominan berasal dari arah Timur (41,76 %) dengan kisaran tinggi gelombang antara 0,1 – 0,2 m  dengan besaran gelombang signifikan (Hs) adalah 0,2 m yang didasarkan pada analisis mawar gelombang (Waverose). Selain itu, berdasarkan pengamatan-pengamatan terdahulu dan informasi dari nelayan-nelayan setempat ternyata tinggi gelombang laut berkisar antara 0,30 m – 0,80 m didekat pantai, terutama pada Musim Barat dan Tenggara; sedangkan di daerah perairan yang lebih jauh dari pantai dapat mencapai 1,00 m.
  2. Pasang Surut : Hasil peramalan untuk lokasi Atapupu dengan metode Least Squarediketahui bahwa tipe pasang surut sekitarnya adalah type mixed tide (tipe campuran) condong ke harian ganda dengan tunggang pasang surut maksimun tertinggi + 3,95 m High Water Spring (HWS), Lowest Water Spring (LWS) = + 0,00 m; sedangkan  Mean Sea Level (MSL)=  + 1,89 m.
  3. Arus Laut : Dalam laporan kajian aspek lingkungan PPI Atapupu dinyatakan bahwa arah arus laut di perairan utara kabupaten Belu (Atapupu dan sekitarnya) adalah arus bolak-balik dimana pada saat air surut arus mengarah ke Timur Laut dan Barat Laut, sedangkan pada saat air pasang arus mengarah ke Tenggara dan Barat Daya dengan kecepatan arus maksimum 0,3 meter per detik. (Laporan Akhir digitasi peta lingkungan laut NTT, 2009). Berdasarkan hasil permodelan transformasi gelombang untuk kedua kondisi (HWS dan LWS) dapat dilihat bahwa pada saat muka air LWS terjadi, gelombang yang datang dari laut dalam cenderung pecah (ombak pecah) karena sibet (dasar laut) terbentuk dari batu karang (coral) sebelum mencapai bibir pantai dengan elevasi dasar gelombang pecah = – 0,4 m LWS, sedangkan pada kondisi muka air HWS, gelombang yang datang dari laut dalam cenderung pecah di sebelah hulu bibir pantai (yaitu setelah mencapai daratan) sehingga akan cukup berbahaya karena dapat mengerosi lahan darat (Hasil Elaborasi dengan Distrik Navigasi Klas II – Kupang, 2016).

2.1.1.8. Penggunaan Lahan

Luas penggunaan lahan di Kabupaten Belu didominasi oleh Kawasan lindung sebesar 32,120 % dan kawasan budidaya lahan kering sebesar 16,189 %. Oleh sebab itu pemanfaatan ruang untuk kawasan budidaya lahan kering perlu ditingkatkan lagi dengan optimalisasi lahan fungsional rata-rata per Kepala Keluarga (KK) tani dari 0,6 ha menjadi 2 ha bila ditunjang dengan pemanfaatan inovasi teknologi pengolahan lahan kering secara maksimal.

Penggunaan Lahan di Kabupaten Belu Tahun 2015

No Penggunaan Lahan Luas (Ha) %
1 Sawah Lahan Basah 12.814,20 9,973
2 Sawah Tadah Hujan 5.015 3,903
3 Lahan Kering 20.802,38 16,189
4 Perkebunan Rakyat 5.954,46 4,634
5 Kolam/Empang/Rawa 62,46 0,049
6 Tambak 100 0,078
7 Padang Pengembalaan 10.390,21 8,086
8 Hutan Lindung 41.272,04 32,120
9 Hutan Produksi Tetap 970,85 0,756
10 Hutan Kota 406 0,316
11 Hutan Bakau 779,7 0,607
12 Lahan Tidur 10.775,6 8,386
13 Semak Belukar dan alang alang 11.639,88 9,059
14 Lahan pekarangan dan permukiman 7.511,22 5,846
  Jumlah 128.494 100

Sumber: RPJMD Kabupaten Belu Tahun 2016-2021

 

Penggunaan  lahan terus bertambah seiring dengan  pertumbuhan ekonomi yang menuntut adanya permintaan jumlah lahan untuk pembangunan infrastruktur, pertumbuhan pemukiman maupun fasilitas perdagangan lainya. Penggunaan lahan ini mengindikasikan bahwa penambahan penggunaan lahan di salah satu sektor akan diikuti dengan pengurangan jenis lahan di sektor lainnya karena tidak adanya konsistensi implementasi rencana tata ruang wilayah. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan penduduk yang semakin bertambah jumlahnya dan berkaitan dengan tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik .

Luasan lahan pertanian terus mengalami penurunan, sedangkan luasan permukiman mengalami kenaikan. Hal ini perlu menjadi perhatian, mengingat kecenderungan yang terjadi adalah maraknya konversi lahan dari lahan pertanian dan lahan hutan lindung menjadi lahan permukiman. Oleh karena itu isu konversi lahan ini sepatutnya menjadi hal yang diprioritaskan penanganannya.

 

Potensi Pengembangan Wilayah

 

Kabupaten Belu memiliki potensi pengembangan ekonomi yang sangat besar berbasis sumberdaya alam terutama pada sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, petenakan serta perikanan dan kelautan yang menghasilkan komoditas khas yang menjadi unggulan diantaranya dari sektor tanaman pangan yaitu komoditi padi, jagung dan  kacang hijau; komoditas hortikultura/sayuran antara lain bawang merah. Pada sub sektor perkebunan telah memberikan nilai ekonomi potensial adalah tanaman jambu mete dan pinang. Sedangkan dari sektor peternakan yaitu sapi dan babi. Sementara dari sektor industri diantaranya kelompok industri rumah tangga (tenun ikat)  dan hasil hutan non kayu (lebah-madu) dan hasil hutan berupa asam yang sangat berkontribusi pada peningkatan ekonomi wilayah dan penyerapan tenaga kerja. Namun dalam pengembangannya, peningkatan komoditas unggulan ini masih belum optimal karena masih belum didukung dengan ketersediaan prasarana produksi (industri), pasar dan tenaga kerja yang terampil.

Kawasan industri dan perdagangan antar Negara RI – RDTL adalah kawasan yang merupakan pintu perbatasan RI – RDTL dengan salah satu kawasan pengembangannya meliputi Kecamatan Tasifeto Timur dan Kecamatan Kakuluk Mesak dengan pusat pengembangan khusus perdagangan di Lakafehan (Desa Dualasi) dan Desa Kenebibi-Kecamatan Kakuluk Mesak sebagai desa industri.

Kawasan Agropolitan Haekesak yang meliputi Kecamatan Raihat,Tasifeto Timur, Lasiolat, Lamaknen, Lamaknen Selatan,Tasifeto Barat dan Kecamatan Raimanuk dapat dikembangkan sebagai pusat produksi tanaman pangan dan hortikultura. Sedangkan kawasan peternakan difokuskan kepada (1)  kawasan  Sonis Laloran (Desa Bakustulama, Derok Faturene dan Naekasa) di Kecamatan Tasifeto Barat seluas 500 Ha; (2) kawasan Fahinuan Nuadato  (Desa Bauho, Sarabau, Umaklaran dan Manleten) di Kecamatan Tasifeto Timur dengan luas 500 Ha;  (3) kawasan  Raimanuk seluas 500 Ha; dan (4)  kawasan Sadi seluas 300 Ha dapat dikembangkan sebagi pusat peternakan sapi Bali. Sedangkan kawasan minapolitan di Kabupaten Belu berupa minapolitan perikanan tangkap dan berada di sepanjang garis pantai utara 32,22 km yang terdiri atas Kecamatan Kakuluk Mesak dan Kecamatan Tasifeto Timur yang berpusat di kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan  (PPI ) Atapupu di Desa Fatuketi

Kabupaten Belu memiliki luas wilayah perairan laut 238,685 km2 dengan panjang garis pantai 32,22 km². Kabupaten Belu memiliki potensi perikanan baik laut maupun darat, khususnya yang berasal dari tambak untuk dikembangkan. Hal ini diperkuat dengan jumlah rumah tangga perikanan yang ada di Kabupaten Belu yang kian meningkat.

Kabupaten Belu mempunyai bermacam-macam obyek dan daya tarik wisata berupa wisata bahari (keindahan Pantai), budaya (tempat upacara, makam, benteng, gua alam, tari tradisional), Religius (Gua Maria Lourdes, Gereja Tua Nualain) dan wisata Belanja (aneka kerajinan). Potensi- potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Belu perlu mendapat perhatian yang serius dan terus digali serta dikembangkan agar kedepan sektor pariwisata dapat menunjukkan kontribusi yang nyata pada kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

2.1.3  Wilayah Rawan Bencana

 

Kabupaten Belu masih merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana relatif tinggi. Adapun bencana yang sering dialami oleh penduduk Kabupaten Belu adalah banjir akibat curah hujan yang berkepanjangan, kebakaran, tanah longsor dan angin puting beliung. Namun dari beberapa jenis bencana tersebut, banjir memiliki frekwensi kejadian kecil pada wilayah kecamatan-kecamatan bagian utara kabupaten. Sedangkan angin puting beliung dan kebakaran memiliki frekwensi kejadian yang minim pada hampir semua kecamatan. Sedangkan bencana tanah longsor merupakan bawaan dari bencana banjir akibat curah hujan yang tinggi dan terjadi hampir di semua kecamatan. Uraian secara rinci sebaran jenis bencana tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Bencana Alam yang Ditimbulkan di Kabupaten Belu Tahun 2013

 

No Kecamatan Jenis Bencana Frekuensi Kejadian
1 Raimanuk Tanah Longsor,

Rawan Pangan

Kebakaran

1

1

1

2 Tasifeto Barat Banjir

Angin Topan

Kebakaran

1

1

2

3 Kakuluk Mesak Banjir

Angin Topan

Angin Puting Beliung

Kebakaran

2

1

2

1

4 Nanaet Duabesi
5 Kota Atambua Banjir

Tanah Longsor

2

1

6 Atambua Barat Angin Topan

Tanah Longsor

Kebakaran

1

1

1

7 Atambua Selatan
8 Tasifeto Timur Tanah Longsor 5
9 Raihat Banjir 1
10 Lasiolat
11 Lamaknen Tanah Longsor

Rawan Pangan

1

1

12 Lamaknen Selatan Tanah Longsor

Angin Topan

Longsor

3

1

1

Total 32

SumberRPJMD Kabupaten Belu Tahun 2016-2021

 

Dari 12 Kecamatan yang ada di Kabupaten Belu, hampir semua kecamatan mengalami bencana alam kecuali Kecamatan Atambua Selatan. Pada tahun 2011 Banjir yang sering terjadi yaitu di Kecamatan Kota Atambua sebanyak 2 (dua) kali. Sedangkan Tanah Longsor yang sering terjadi di Kecamatan Tasifeto Timur sebanyak 5 (lima) kali dan Lamaknen Selatan sebanyak 3 (tiga)  kali.

Kabupaten Belu merupakan wilayah yang rawan akan beberapa bencana, yaitu:

  1. Rawan Bencana Banjir

Seringkali bencana banjir terjadi akibat meluapnya beberapa sungai dan anak sungai pada musim hujan meskipun tidak begitu besar dampaknya. Diantaranya Sungai Talau, Sungai Malibaka, dan Sungai Baukama dan Luradik. Kawasan rawan bencana banjir meliputi : Kecamatan Kakuluk Mesak, Kota Atambua, Atambua Barat,  Atambua Selatan, Tasifeto Timur, Raihat, Lasiolat, Lamaknen dan Lamaknen Selatan.

  1. Rawan Bencana Longsor

Kawasan rawan bencana longsor meliputi : seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Belu, yaitu Kecamatan Raimanuk, Tasifeto Barat, Nanaet Duabesi, Kakuluk Mesak, Kota Atambua, Atambua Barat Atambua Selatan, Tasifeto Timur, Raihat, Lasiolat, Lamaknen dan Lamaknen Selatan.

  1. Rawan Bencana Angin Puting Beliung

Kawasan rawan bencana angin puting beliung meliputi : Kecamatan Raimanuk, Tasifeto Barat, Nanaet Duabesi, Kakuluk Mesak, Kota Atambua, Atambua Barat Atambua Selatan, Tasifeto Timur, Lasiolat, Lamaknen dan Lamaknen Selatan.

  1. Rawan Bencana Kebakaran Hutan dan Permukiman

Kawasan rawan bencana kebakaran hutan meliputi : Kecamatan Raimanuk, Tasifeto Barat, Nanaet Duabesi, Kakuluk Mesak, Kota Atambua, Atambua Barat,Atambua Selatan, Tasifeto Timur dan  Lasiolat.

  1. Rawan Bencana Abrasi Pantai

Kawasan rawan bencana abrasi pantai meliputi : Kecamatan Kakuluk Mesak dan  Tasifeto Timur (Desa Silawan).

  1. Rawan Bencana Kekeringan

Kawasan rawan bencana kebakaran hutan meliputi : Kecamatan Raimanuk, Tasifeto Timur, Kakuluk Mesak, Raihat dan  Lasiolat; termasuk kekurangan air bersih bagi masyarakat (seluruh Kecamatan).

  1. Rawan Bencana Tsunami

Kawasan rawan bencana Tsunami meliputi Desa Silawan (Kecamatan Tasifeto Timur) dan Desa Jenilu, Kenebibi, Dualaus, Fatuketi (Kecamatan Kakuluk Mesak).

  1. Rawan Bencana Konflik Sosial

Kawasan rawan bencana konflik sosial meliputi seluruh wilayah Kecamatan di Kabupaten Belu jika terjadi konflik horizontal maupun konflik vertikal antar masyarakat serta segregasi yang diperkirakan akan terjadi di Kota Atambua.

 

 

One thought on “KEADAAN GEOGRAFIS

Comments are closed.