JURNALIS PEMERINTAH HARUS PUNYA DATA AKURAT DALAM PENYAJIAN BERITA

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB BELU—Rabu (06/03), Tenaga Ahli di Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Ahmed Kurnia Soeriawidjaja tampil sebagai narasumber pada pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Belu bekerjasama dengan Direktorat Pengelolaan Media Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, membawakan Materi tentang Jurnalistik dan Pengelolaan Media Digital Pemerintah, di Gedung Wanita Betelalenok Atambua Kota Perbatasan Kabupaten Belu.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Johanes Andes P, orang tersenyum, orang duduk

Wartawan Senior Majalah Tempo dan The Jakarta Post yang sekarang menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Info Publik Kementerian Kominfo RI ini menjelaskan bahwa jurnalis pemerintah dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat lebih menekankan pada kegiatan dan program kerja Pemerintah, dalam hal pembangunan melalui media pemerintah yang dikelola oleh Dinas Kominfo Kabupaten Belu.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, termasuk Ichy Klau, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

‘’Informasi yang disebarluaskan kepada masyarakat apa adanya terkait dengan apa yang sudah, sedang dan capaian-capaian yang dilakukan pemerintah serta kendala apa yang dihadapi pemerintah dalam upaya untuk proses pembangunan yang ada. Oleh karena itu, proses yang ada perlu di sampaikan kepada masyarakat melalui media pemerintah dalam hal ini yang di kelola Dinas Kominfo Belu agar masyarakat bisa berpartisipasi dalam proses pembangunan,’’tutur Ahmed.

Jurnalis yang bekerja dalam media pemerintah, hendaknya bekerja lebih berat lagi dalam menyajikan informasi kepada masyarakat, karena persoalan penyebarluasan informasi kepada masyarakat membutuhkan data yang akurat dan cepat, cepat tapi harus akurat.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang tersenyum, orang duduk

‘’Jadi tantangan yang di hadapi oleh jurnalis di media pemerintah ketika harus menyampaikan kegiatan pemerintah seperti apa yang sudah, apa yang sedang dan apa yang akan di lakukan serta upaya – upaya pemerintah dalam hal pembangunan. Karna itu, saya berharap mereka bekerja harus lebih berat karena menyangkut masalah data, akurasi dan kecepatan,’’ tegasnya usai kegiatan pelatihan jurnalistik.

Lebih lanjut Wartawan Senior ini mengatakan penulisan berita di media online, pada dasarnya tak ada bedanya dengan penulisan di media cetak. Jadi, dalam penulisan berita di media online, kurangi pengulangan kata dan yang dianggap tidak perlu harus dihilangkan.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiri

“Kaitannya dengan kaidah penulisan jurnalistik, persoalan yang diangkat menarik dan penting, artinya menarik di awal tulisan dan selanjutnya memberikan makna penting,” ujarnya.

Pada penutupan kegiatan pelatihan jurnalistik ditandai dengan penyerahan cenderamata berupa tais kepada para narasumber.

Foto/Berita: AlfonsNorcy Seran, Ria Mauk, Cransen Fontes & Oktaf Mali Oktaf Mali

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.