RUMAH SINGGAH TERNAK, SOLUSI MENGATUR PELAYANAN IB SECARA TERSISTEM

Facebookyoutubeinstagram
DINAS KOMINFO KAB. BELU – Rabu (16/06), Upaya percepatan peningkatan produksi ternak Sapi di Wilayah perbatasan RI-RDTL, Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mengintensifkan penerapan Teknologi Tepat Guna untuk perbaikan kualitas genetik dengan program Inseminasi Buatan (IB) dan meluncurkan pelayanan Rumah Singgah Ternak (Cows Shelter) untuk mewujudkan kejayaan Sapi Timor.
Mungkin gambar 1 orang dan berdiri
“Rumah Singgah Ternak dibuat untuk mengatur pelaksanaan pelayanan IB yang dilakukan secara tersistem dalam satu paket pelayanan sesuai SOP pelayanan Inseminasi Buatan,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu – Drs. Nikolaus U. K. Birri, MM di ruang kerjanya.
Kadis Umbu Niko menjelaskan, dalam sistem pelayanan Rumah Singgah Ternak (Cows Shelter) akan dilakukan pengamatan birahi dan pemeriksaan kebuntingan (PKB) setelah 30-60 hari dilaksanakan Inseminasi Buatan. Pelayanan IB di rumah singgah diharapkan dapat meningkatkan kebuntingan ternak dan kelahiran dari ternak betina hasil inseminasi buatan.
“IB dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas ternak sapi, meningkatkan populasi ternak atau angka kelahiran dengan cepat dan teratur serta memperbaiki mutu genetik,” ujarnya.
Tambah Kadis Umbu Niko, upaya lain yang dilakukan adalah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara luas dalam jangka waktu yang lebih lama.
“Teknologi kawin suntik ini juga untuk mencegah penularan atau penyebaran penyakit kelamin serta meningkatkan produksi dan produktivitas ternak”.
Keterangan foto tidak tersedia.
Menyinggung keuntungan pelaksanaan IB pada Rumah Singgah Ternak, Kadis Umbu Niko mengatakan, rumah singgah ternak memiliki banyak manfaat seperti menghemat biaya mobilisasi pejantan unggul dan biaya pemeliharaan ternak jantan.
“Selain itu dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik, sehingga dapat meningkatkan populasi dan pendapatan peternak serta mencegah terjadinya kawin sedarah pada Sapi betina (in breeding),” tandas Kadis.
Sejauh ini, tutur Kadis Umbu Niko bahwa Rumah Singgah sudah dilaksanakan sejak tahun 2019 di Desa Dafala. Tahun 2020 di Desa Bauho dan pada tahun 2021 di Desa Manleten.
“Masing-masing rumah singgah memiliki kebun HPT seluas 1 hingga 2 Ha yang ditanami rumput-rumputan (rumput alam, gajah odot dan kinggres) dan leguminosa seperti lamtoro dan gala-gala,” ucap Kadis Umbu Niko.
Untuk diketahui, Rumah Singgah Ternak di Desa Dafala atau yang dikenal dengan nama Kelompok Lima Satu BBU memiliki daya tampung sebanyak 10 ekor ternak. Rumah singgah ternak tersebut difasilitasi dengan kandang jepit dan tempat pakan.
“Sejak tahun 2019 hingga tahun 2020, Rumah Singgah Ternak di Desa Dafala sudah menghasilkan Sapi hasil IB sebanyak 6 ekor, yakni Sapi Angus 4 ekor, Simental 1 ekor, Limousin 1 ekor dan Sapi Bali sebanyak 4 ekor. Pada tahun 2021, terdapat 5 ekor ternak yang menggunakan jasa pelayanan rumah singgah dan saat ini semuanya bunting, yakni Sapi Angus 4 ekor dan Sapi Limousin 1 ekor. Untuk sapi cross yang tidak menggunakan jasa pelayanan rumah singgah ternak sebanyak 10 ekor, diantaranya sapi Angus 9 ekor dan Sapi Limousin 1 ekor,” urai Kadis Umbu Niko.
Mungkin gambar 2 orang, hewan dan luar ruangan
Sedangkan Rumah Singgah Ternak di Desa Bauho, dengan nama Kelompok Bui Lawa memiliki daya tampung sebanyak 6 ekor ternak. Ternak yang bunting sebanyak 2 ekor, masing-masing bangsa Angus 1 ekor dan Simental 1 ekor.
“Rumah Singgah Bui Lawa baru dibangun tahun 2020. Rumah singgah ini baru melayani 6 akseptor. Rumah Singgah Ternak di Desa Bauho sudah menghasilkan sapi hasil IB sebanyak 5 ekor yakni, Sapi Angus 5 ekor, Aapi Simental 1 ekor dan Sapi Bali sebanyak 2 ekor. Sementara sapi cross yang belum menggunakan jasa pelayanan rumah singgah sebanyak 11 ekor yakni Sapi Angus 8 ekor dan Sapi Simental sebanyak 3 ekor,” tambah Kadis Umbu Niko.
Sementara Rumah Singgah Ternak yang bangun tahun 2021 di Desa Manleten dengan nama Kelompok We Klan memiliki daya tampung sebanyak 20 ekor ternak.
“Rumah Singgah Ternak We Klan bisa melayani hingga 20 ekor ternak sapi. Untuk sapi hasil IB di Desa Manleten sebanyak 18 ekor, yakni Sapi Angus 10 ekor, Simental 4 ekor, Limousin 2 ekor dan Sapi Bali sebanyak 2 ekor. Khususnya di Desa Dafala Sapi cross yang sementara bunting ada 15 ekor, yakni Sapi Angus 10 ekor, Sapi Simental 2 ekor, Sapi Limousin 2 ekor dan Sapi Bali 1 ekor,” tutup Kadis Niko Umbu.
Mungkin gambar hewan
Informasi yang dihimpun, untuk Kecamatan Tasifeto Timur sejak launching Upsus Siwab Tahun 2017 (sekarang SIKOMANDAN), telah menghasilkan Sapi hasil IB sebanyak 45 ekor yakni, Sapi Angus 21 ekor, Sapi Simental 8 ekor, Sapi Limousin sebanyak 3 ekor dan Sapi Bali sebanyak 13 ekor. Dengan adanya kegiatan pencanangan Rumah Singgah Ternak tersebut, jasa pelayanan rumah singgah ini kedepannya dapat menginspirasi kecamatan lainnya untuk melakukan inovasi yang sama.
Salah satu peternak asal Desa Dafala – Eduardus Besin mengaku sangat senang dengan jasa rumah singgah yang di luncurkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu. Menurutnya, program rumah singgah memiliki banyak manfaat yang sangat membantu pemeliharaan ternak mereka.
“Kehadiran rumah singgah ini sangat bagus dan memotivasi kami untuk bagaimana memelihara ternak secara baik. Sejak tahun 2018 kami hanya 5 anggota, sampai sekarang sudah bertambah menjadi 8 anggota. Kami juga senang karena komunikasi kami dengan petugas Dinas Peternakan berjalan baik dan lancar,” ucap Edu Besin.
Sebagai peternak, ungkap Edu Besin bahwa dirinya merasa senang karena telah memiliki beberapa jenis Sapi cross hasil inseminasi buatan. Ia juga mengaku, ketersediaan pakan di rumah singgah lebih dari cukup.
“Potensi disini sangat mendukung. Tanah yang luas dan air yang cukup sehingga kami tidak kekurangan pakan untuk ternak sapi,” katanya.
Berita/Foto: Team Disnakkeswan
Editor: Elias Mali
Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.