MENJAGA STOK PAKAN DI MUSIM KEMARAU, DISNAK BELU PERKENALKAN TEKNOLOGI PEMBUATAN “SILASE”

Facebookyoutubeinstagram
DINAS KOMINFO KAB. BELU – Jumat (04/06), Mengantisipasi anomali cuaca maupun perubahan musim hujan memasuki musim kemarau diwilayah Kabupaten Belu menjadi perhatian penting bagi peternak yang memelihara ternak seperti sapi, kambing dan domba untuk menjaga ketersediaan pakan ternaknya karena terbatasnya rerumputan pada musim kemarau. Melimpahnya hijauan pada musim hujan merupakan suatu kesempatan bagi peternak agar menyimpan pakan hijauannya untuk menghadapi musim kemarau.
Mungkin gambar 1 orang
Dalam upaya mengantisipasi kekurangan pakan pada musim kemarau, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, telah menyiapkan langkah strategis dengan memperkenalkan salah satu teknologi pengawetan pakan hijauan ternak dengan sistem Silase.
“Program ini dimaksudkan untuk kita memiliki ketersediaan pakan di musim kemarau, dengan harapan bahwa masyarakat bisa memelihara ternak pada musim kemarau, dan ternaknya tidak kekurangan pakan,” ungkap Kadisnakes Belu – Drs. Nikolaus U.K. Birri, MM di sela-sela Demo Pengawetan Silase di Wekabu, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Jumat (28/05/21).
Mungkin gambar luar ruangan
Kadis Umbu menjelaskan, tujuan membuat silase di Kelompok Tani Taro Jaya adalah untuk memperkenalkan teknologi pengawetan pakan hijauan sebagai cadangan dan persediaan pakan ternak pada saat musim kemarau yang panjang.
“Pembuatan silase yang kita lakukan hari ini adalah untuk mensiasati persediaan makanan ternak pada musim kemarau, menampung kelebihan HMT pada musim penghujan agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Kita juga mendayagunakan limbah hasil ikutan dari pertanian seperti jerami padi dan jagung” katanya.
Keterangan foto tidak tersedia.
Disamping itu, ungkap Kadis Umbu bahwa selain untuk menyimpan dan menampung pakan hijauan yang berlebih pada saat musim hujan, peternak juga dapat memanfaatkan pakan hijauan pada saat kondisi dengan nilai protein yang tinggi.
“Nilai gizi silase setara dengan hijauan dan bahkan lebih dengan adanya bahan tambahan. Silase juga lebih disukai ternak dan lebih mudah dicerna,” tandas Kadis.
Kadis menambahkan, Silase merupakan awetan pakan yang dibuat dengan prinsip fermentasi anaerob yaitu dalam proses pembuatannya hijauan yang sudah dipotong, kemudian disimpan dalam wadah tertutup (silo).
Mungkin gambar pohon dan luar ruangan
“Silase dikondisikan agar padat dan tidak menyisakan ruang untuk udara, lalu silo pun ditutup serapat mungkin dengan bertujuan agar fermentasi yang terjadi adalah fermentasi anaerob. Proses fermentasi berjalan kurang lebih 21 hari, sehingga silase baru dapat diberikan pada ternak setelah 21 hari dari tanggal pembuatan. Silase yang stabil memiliki daya simpan yang lebih lama,” terang Mantan Kasatpol PP ini serius.
Dengan adanya teknologi pengawetan HPT ini, Kadis Umbu mengajak seluruh peternak di Kabupaten Belu agar terus mengoptimalkan pemberian nutrien bagi ternak sapi, dengan mengoptimalkan kualitas dan kuantitas hijauan pakan ternak.
Mungkin gambar 5 orang, orang berdiri dan luar ruangan
“Kita berharap dengan adanya kegiatan pembuatan silase ini, masyarakat bisa terbantu ketersediaan pakan pada musim kemarau. Masyarakat juga dapat menanam hijauaan makanan ternak dengan memanfaatkan musim hujan yang ada, sehingga kelebihan pakan nantinya dapat kita awetkan untuk kebutuhan makanan ternak pada musim kemarau yang panjang,” tukasnya.
Turut hadir mendampingi Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu antara lain Kepala Bidang Prasarana dan Sarana – Maria Imelda Haki, S.Pt, Kasie Pakan- Mikael Seran Moruk, S.Pt, Kasie Lahan dan Irigasi – Adelia R. Moreira, S.Pt, dan Kasie Pembiayaan dan Investasi -Matheos D. Taklal, SST. Turut serta Petugas Teknis, seperti Dokter Hewan dan P3M Kecamatan Tasifeto Barat serta masyarakat setempat.
Berita/Foto: Team Disnakkes Belu
Editor: Elias Mali
Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.