USKUP ATAMBUA PIMPIN MISA JUMAT AGUNG

Facebookyoutubeinstagram
DINAS KOMINFO KAB. BELU – Sabtu (11/04) Uskup Atambua – Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr memimpin perayaan misa Jum’at Agung tanpa umat yang bertemakan Salib Tanda Kemenangan, berlangsung di Gereja Paroki Katedral Sta. Maria Immaculata Atambua, Jumat (10/4/20).
Dalam kotbahnya Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr mengajak umat Keuskupan Atambua untuk mengikuti dan menghayati kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari.
Dalam kisah sengsara Yesus menyerahkan rohnya menghadap Bapa dalam kematian, sebuah kematian yang penuh misteri, penuh rahasia, penuh pertanyaan. Kematian Yesus begitu mencengangkan, mengantar sekaligus mengajak kita untuk beriman kepada-Nya. Ada tiga alasan dalam kematian Yesus yang mencengangkan seluruh dunia, yang pertama alasan Politik; Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum / INRI yang tertulis diatas salib yang berarti Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi, alasan Politik itu tidak kuat untuk menghukum mati Yesus. Yang kedua alasan religius propylene berdasarkan keyakinan bangsa Yahudi, imam – imam kepala mengatakan kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu dia harus mati karena dia menyebut dirinya putra Allah, ini juga alasan yang tidak kuat untuk kematian Yesus karena didalam pengadilan tidak dapat dibuktikan kebenarannya bahwa Yesus bersalah. Alasan yang ketiga yakni alasan sosial populer, kalau kita mengikuti baik-baik kisah sengsara tampil seorang saksi, orang ini pernah mengatakan ia akan meruntuhkan bait Allah dan dalam tiga hari Ia akan membangun lagi, ungkapan alasan ini tidak dibenarkan untuk sebuah hukuman mati.
Saudari dan saudara yang terkasih kalau demikian mengapa Yesus mati, jawaban yang biasa diberikan kepada kita Yesus mati demi kita, Yesus melaksanakan tugas perutusan-Nya sampai setuntas-tuntasnya. Yesus menggenapkan rencana keselamatan Allah dengan menjadikan diri-Nya mati justru ditengah ketidakadilan, ditengah alasan-alasan yang tidak kuat, Dia tidak pernah mengklaim kemenangan, tidak pernah mengklaim kebenaran dibalik ketidakadilan. Dia menyerahkan diri-Nya supaya kita semua memperoleh kemenangan, supaya kita semua memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita dan memperoleh penebusan.
Saudari dan saudaraku yang terkasih itulah persis yang diwartakan Nabi Yesaya, “dia mati karena dosa-dosa kita, dia mati supaya kita selamat”. Kita juga diundang untuk bertobat, tobat kita sering kali kita masuk dalam kesulitan penghayatan hidup seringkali kita mengklaim banyak kepalsuan dan mengorbankan banyak orang, kita biasa bersifat anarkis seperti yang dilakukan oleh Pilatus menghukum orang tanpa alasan, menghukum orang tanpa dasar yang cukup, kita juga sering masuk didalam klaim-klaim yang tidak mendasar yang menjadikan kita menghakimi sesama umat beriman tetapi juga menghakimi Tuhan dengan bersandarkan pada diri dalam kepalsuan yang dibangun pada tindakan yang palsu, sering kali kita cenderung untuk melawan suatu kebenaran yang disampaikan oleh pihak lain hanya karena kebenaran itu kalau diakui akan merugikan kita.
Kami para Imam dengan cita-cita yang mulia pada saat misa tahbisan dengan gagah perkasa menuju altar Tuhan, besok lusa kami mengkhianati imamat itu sendiri, dalam pengkhianatan – pengkhianatan seperti ini terus saja terjadi dan itu menjadi alasan Tuhan kita disalibkan.
Anak -anak didalam rumah tangga yang bercita- cita menjadi anak-anak yang baik dalam perjalanan hidup menyelewengkan cita-cita itu dan mereka menjadi anak-anak yang sesat didalam perjalanan.
Akhirnya mari kita belajar dan terus menerus membaharui hidup kita melalui pertobatan supaya Kristus yang disalibkan hingga wafat tidak sia-sia tetapi untuk memenangkan kita bagi kehidupan yang sudah di siapkan. Selamat merayakan Jumat Agung.
Perayaan Jumat Agung ini diikuti oleh umat Keuskupan Atambua melalui halaman Facebook Komsos Keuskupan Atambua maupun siaran langsung oleh Lembaga Penyiaran Publik RRI Net Atambua.
Berita/Foto: Hengki Mao

 

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.