ATASI KETERSEDIAAN DATA, DP3A BELU PERKENALKAN APLIKASI SIGA TAHUN 2020

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU — Jumat (13/03), Guna memberikan pemahaman tentang pentingnya data terpilah gender dan anak dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan program pemberdayaan perempuan, perlindungan perempuan, dan perlindungan anak. Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Belu kembali memperkenalkan aplikasi Sistem Informasi Gender dan Anak (SIGA) Tingkat Kabupaten Belu Tahun 2020 kepada 100 orang peserta sosialisasi yang terdiri dari Unsur Forkopimda, Organisasi Perangkat Daerah, Tokoh masyarakat, Pimpinan Organisasi Perempuan, Pimpinan LSM, dan Forum Anak, Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Wanita Betelalenok – Atambua, Kamis (12/03/2020).

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Belu – Theresia M. B. Saik, S.K.M., M.Kes, bahwa Isu Gender dan Anak selama ini kurang diperhitungkan dalam berbagai proses kebijakan pembangunan, hal ini terjadi karena ketersediaan data terpilah kurang memadai padahal data dan informasi adalah komponen penting dalam penyelenggaraan pembangunan yang dimulai dari tahap perencanaan, penganggaran, implementasi sampai dengan evaluasi program atau pengukuran pencapaian kinerja pembangunan. Sebagai akibatnya kebijakan program kegiatan pembangunan tidak responsif terhadap kebutuhan, kesulitan sebagai perempuan atau sebagai laki – laki dan tidak memihak bagi kepentingan terbaik bagi anak dan disebut buta gender.

“ Karena itu, Ketidaksetaraan antara perempuan dan laki – laki dalam berbagai bidang pembangunan dan kehidupan masih terus berlanjut, sebagai upayanya kami telah laksanakan sosialisasi ini sejak tahun 2018 lalu untuk memperkenalkan Aplikasi ini,” ujar Kadis DP3A Kabupaten Belu.

Untuk mengatasi ketersedian kekurangan data terpilah belum memadai, Mantan Kadis Kesehatan ini menjelaskan bahwa dalam Aplikasi SIGA ini membutuhkan data terpilah menurut Jenis Kelamin, Umur, Kelompok Usia dan Desa/kota yang mana hal ini menjadi suatu keharusan khususnya terkait penginputan pelaksanaan Pengarus Utamaan Gender (PUG) dan Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) diseluruh bidang pembangunan serta pengembangan kebijakan yang responsive gender dan anak.

“ Hal ini tertuang dalam dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dan dalam instruksi ini semua kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah untuk melaksanakan pengarusutamaan gender dalam mendukung pembangunan,” jelasnya.

Kadis menyebutkan sosialisasi ini sudah dilaksanakan sebanyak tiga kali, oleh karena itu, kedepannya tidak lagi melakukan sosialisasi, akan tetapi dilakukan diseminasi kepada semua stakeholder untuk kepentingan perencanaan program dalam kaitannya dengan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“ Semua data dan infromasi ini sangat membutuhkan waktu bahkan kita yang harus menjemput sendiri data itu, maka saya berharap dukungan dari OPD, Kecamatan, Desa/Lurah untuk mendukung kami dengan data sehingga kita memiliki data terpilah yang akan diolah analisis menjadi informasi untuk kita gunakan dalam program kedepannya yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan Anak,” harap mantan Kadis Kesehatan.

Adapun Narasumber dalam Sosialisasi SIGA ini yakni Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian dan Evaluasi pada Badan dengan penyampaian materi tentang Kebijakan pengarusutamaan Gender dalam pembangunan dan seorang Ilmuan – Rm. Lusius Tae Mau, P.S.Ag., B.Sc., MA.

Berita/Foto : Ritha Terik, Norci Man, Elly Mali & Okto Mali

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.