RAPAT KOORDINASI PENANGULANGAN PENYAKIT ASF TINGKAT KABUPATEN BELU

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Rabu (11/03), Pemerintah Kabupaten Belu bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian RI menggelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Penyakit ASF Tingkat Kabupaten Belu, di Gedung Wanita Betelalenok.

Kegiatan ini dibuka Wakil Bupati Belu – Drs. J. T Ose Luan dan dihadiri sejumlah unsur Forkompimda plus, Kapolsek, Danramil, pengusaha ternak, Camat, Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat.

Wakil Bupati Belu – Drs. J. T. Ose Luan mengatakan, Berbagai kegiatan sudah dilakukan oleh Kepala Dinas baik Pusat, Provinsi sampai Kabupaten untuk mencegah virus ASF, sehingga kehadiran Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kepala Balai dan Kepala Bidang baik Pusat maupun Provinsi sangatlah penting untuk memberikan masukan terkait upaya penanggulangan Virus ASF yang merupakan musibah besar karena berkaitan dengan ekonomi keluarga, sehingga bisa bersama – sama mencari solusi bagaimana cara mencegah Virus ASF. Ternak babi sebut Wabup Ose Luan adalah hewan yang sangat penting di Kabupten Belu, karena dengan ternak babi masyarkat dapat menyekolahkan anak serta memenuhi urusan adat yang merupakan suatu kehormatan bagi orang Belu.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu – Drs. Nikolaus Umbu Birri mengatakan, terhitung Januari hingga Februari 2020, pihaknya mencatat sebanyak 753 ekor babi yang mati akibat Virus African Swine Fever (ASF). Lebih dari itu jumlah babi yang mati terkena Virus ASF sebanyak 2.000 ekor babi yang tersebar di 12 Kecamatan se – Kabupaten Belu. Dari 2.000 ekor babi yang mati, ada beberapa yang di potong, kemudian dagingnya di kirim ke Lap Bvet Medan. Dari hasil pemeriksaan, diketahui positif ASF, sehingga pihaknya melakukan beberapa tindakan antara lain, melakukan Bio Security, meningkatkan komunitas informasi dan edukasi akan pentinya pencegahan ASF melalui tindakan pembatasan (isolasi) ternak babi antara desa ,Kecamatan, Kabupaten dengan tujuan membatasi ruang gerak penyebaran ASF serta masyarakat tidak terpengaruh oleh berbagi isu yang meresahkan terhadap sikap apatis mengkonsumsi daging babi. Oleh karenanya, Ia menghimbau kepada masyarakat tidak perlu cemas dan kuatir terhadap daging babi yang beredar dipasaran dan harus cerdas dalam memilih daging babi yang sehat dan berkualitas.

Lanjut Kadis, sebagai upaya penanggulangan, pihaknya melakukan uji laboratorium sebanyak 48 sampel darah dan organ babi di Balai Veteriner Medan dan hasilnya sebagian besar positif terjangkit ASF pada sampel babi yang berasal dari 12 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Belu.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI – Drh. Fadjar Sumping Tjaturasa, Phd mengatakan, sejauh ini belum ada vaksin pencegahan virus ASF. Namun, pihaknya meminta kepada masyarakat melakukan Boi Security terhadap ternak babi dengan metode beternak tradisioanal berupa memelihara babi dengan metode penggemukan sekaligus pimbibitan untuk memenuhi kebutuhan industri, serta tidak membawa ternak babi masuk dan keluar dari Belu, dengan tujuan agar menyelamatkan babi dari Virus ASF, sehingga bisa menyelamatkan peternak babi.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi NTT – Wempi Bate menyebutkan, ternak babi yang mati akibat terserang penyakit ASF di Kabupten Belu, Malaka, TTU, TTS, Kupang dan Kota Kupang telah mencapai 3.162 ekor, sehingga untuk mengatasi ASF dilakukan dengan cara tidak melakukan kontak langsung terhadap ternak babi, mamagari kandang babi, membatasi akses orang memberi makan babi serta secara rutin membersihkan kandang babi.

Lanjut Wempi, cara- cara yang ditempuh agar ternak babi tetap sehat dan terhindar dari virus ASF yakni, pemberian pakan yang sehat bukan limbah dapur, jaga kebersihan kandang, melarang orang masuk ke kandang, semprot kandang babi dua kali sehari dengan menggunakan bayclin dengan perbandingan air satu perempat serta melarang membawah daging babi dari ternak yang sudah mati.

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan Spanduk dan Leaflet ASF, Hand Sprayer dan Disinfektan dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian RI kepada Pemerintah Kabupaten Belu.

Narasumber dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Penyakit ASF, yakni Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI – Drh. Fadjar Sumping Tjaturasa, Phd, Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar Bali – Dra. Masa Tanaya, Phd, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Provinsi NTT – Wempi Bate, S.TP.

Berita/foto : Tim Peliputan

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.