KAWASAN TERNAK SONIS LALORAN AKAN TERUS DIKEMBANGKAN UNTUK TINGKATKAN POPULASI TERNAK DI BELU

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Senin (09/03), Pemerintah Kabupaten Belu terus melakukan pengembangan Kawasan Peternakan Sonis Lalora Kecamatan Tasifeto Barat untuk meningkatkan perkonomian dengan penambahan fasilitas peternakan dan pengolahan pakan ternak.

Pengembangan kawasan peternakan sonis laloran mengacu pada RPJMD Bupati dan Wakil Bupati Belu untuk lima tahun salah satunya pengembangan perekonomian masyrakat, khusus untuk peternakan dengan pengembangan populasi ternak dikawasan peternakan sonis lolaran.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu Drs. Nikolaus Umbu K. Birri, MM menyampaikan salah satu kawasan peternakan yang sudah dilaporkan ke Pemerintah Pusat adalah Kawasan Peternakan Sonis Laloran. Kawasan dengan luas kurang lebih 480 Ha tersebut baru dikelolah sekitar 20 Ha sehingga akan terus diperluas lagi dengan desain oleh IPB.

Lebih lanjut Kadis Peternakan mengatakan, bantuan dari Pemerintah Pusat sudah ada berupa bantuan ternak untuk masyrakat disekitarnya, fasilitas pendukung didalam Kawasan Sonis seperti puskewan dan beberapa bangunan untuk tempat pengelolaan pakan ternak, dan selter, selain itu didalam kawasan sonis laloran terdapat delapan pedok dengan rincian empat pedok untuk masyrakat dan empat lainnya untuk pengembangan investasi di Sonis Laloran.

‘’Lahan seluas 20 ha yang sudah kami olah telah kami tanami dengan pakan ternak mulai seperti lamtoro, rumput kingres dan gala-gala,” jelas kadis.

Mantan Kasatpol PP Kabupaten Belu ini menambahkan, jumlah ternak sapi milik Pemerintah yang terdapat di Sonis laloran saat ini sebanyak 28 ekor, dengan rincian sebanyak 25 ekor merupakan sapi bantuan dari pemerintah pusat, sedangkan 3 ekor lainnya adalah sisa dari kawasan Kapitan Meo.

“Untuk menjaga ketersediaan pakan ternak terutama pada musim kering, atas instruksi Bapak Bupati Belu Dinas Peternakan bekerja sama dengan PT PUM Belanda telah melakukan uji coba program pengawetan pakan ternak yaitu Silase,” Ujar Kadis Umbu.

Ia menambahkan ada dua jenis Silase yaitu silase untuk jagung berumur 70 hari tanpa Molases dan selanjutnya pada bulan April atau Mei akan dilakukan pengawetan sisa-sisa rumput dan tanaman-tanaman lain untuk diolah menjadi pakan ternak yaitu silase mengunakan Molases.

Menurut Kadis Umbu, Kawasan Sonis laloran bukan satu-satunya kawasan yang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Belu saat ini, karena masih ada kawasan ternak lainnya seperti Sonaf Tari Tasaen di Kecamatan Raimanuk, kawasan Makun di Kecamatan Kakuluk Mesak, Fahinuan di Desa Manleten Kecamatan Tasifeto Timur dan kawasan Peibulak Kecamatan Lamaknen Selatan.

“Semua kawasan ini akan terus dikembangkan karena padang pengembalaan setiap tahun makin berkurang,” pungkasnya.

Berita/Foto: tim peliputan

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.