BUDIDAYA MAEK BAKO DONGKRAK EKONOMI KELUARGA

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Senin (10/02), Program maek bako atau Porang yang dicetuskan oleh Bupati Willybrodus Lay, SH dan Wakil Bupati Belu Drs. J. T. Ose Luan dalam kampanye Politik tahun 2015 silam ternyata membawa dampak yang sangat signifikan bagi perubahan pola pikir masyarakat dalam upaya peningkatan ekonomi keluarga.

Tumbuhan yang selama ini tumbuh liar di hutan-hutan dan hanya dijadikan sebagai makanan ternak akhirnya bisa mendongkrak animo masyarakat untuk membudidayakannya setelah para petani tau sendiri apa mamfaat dan pengaruhnya bagi penghasilan rumah tangga mereka.

“Awalnya saya pesimis karena sistem pengeringan dan harga jualnya saya anggap rumit, namum setelah saya mencoba mengagli sendiri dihutan, mengeringkan dan menjual ke toko terdekat baru saya sadar kalau maek bako atau porang ini sangat besar mamfaatnya bagi peningkatan Ekonomi keluarga,” ujar Julianus Ati Bau, S.Sos yang ditemui di kediamannya di Dusun Sana Bibi, Desa Dafala Kecamatan Tasifeto Timur belum lama ini.

Dengan penuh semangat mantan Sekretaris Partai Amanat Nasional ini mengkisahkan pengalamannya sejak awal dia mengenal maek bako dan muncul perasan ingin mencoba-coba dan akirnya dia menyimpulkan kalau maek Bako ini adalah sebuah program yang sangat bermamfaat dan harus didukung oleh semua pihak.

“Awalnya saya hanya menggali sebanyak 24 pohon maek Bako di hutan terdekat, saya keringkan dalam waktu 3 hari lamanya dan bawa timbang ternyata beratnya mencapai 16 kilo gram. Dengan harga Rp.40.000/kg (Empat Puluh Ribu Rupiah) saat itu saya mendapatkan uang sebanyak Rp.640.000,” ujar mantan Kepala Desa Nualain periode tahun 2010-2016 ini.

Menurut Ati Bau, Maek bako ini adalah salah satu jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan masuk dalam salah satu program pemerintah Kabupaten Belu sehinga harus terus dikembangkan dengan membagikan bibit kepada para petani karena bibit yang sementara ini dikembangkan oleh pemerintah belum dibagikan secara merata kepada masyarakat.

Ia pun berharap ke depan tidak hanya sekedar membagi bibit kepada para petani akan tetapi harus disertai dengan pendampingan dan sosialisasi teknis budidaya yang baik dan benar misalnya ditanam dengan sistem pembedengan yang teratur sehingga hasilnya bisa berlipat ganda.

Mantan aktivis era tahun 1998 yang pernah mendekam dalam tahanan karena pristiwa aksi Demonstrasi bersama kelompok Mahasiswa dan beberapa elemen masyarakat di Gedung DPRD Belu puluhan tahun silam ini mengharapkan kepada para pemuda untuk bisa mendukung program maek Bako ini.

“Kita boleh idealis, namun tidak boleh terkooptasi dalam kepentingan sempit. Boleh melakukan keritikan tapi harus disertain dengan solusi. Sebaliknya kita juga harus berani mengakui jika sesuatu hal itu baik dan berguna bagi banyak orang, seperti halnya Program Maek bako ini wajib kita dukung,” pungkasnya.

Foto/Berita: Stefance Bele Bau

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.