GAIRAH PETANI MENANAM MAEK BAKO MENINGKAT PEMERINTAH PUSAT ALOKASIKAN DANA LEWAT APBN

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Jumat (07/02), Kabupaten Belu merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada di batas negara antara Negara Republik Indonesia dengan RDTL (Republika Demokratik Timor Leste) yang memiliki iklim Tropis dengan curah hujan hanya berkisar 2-3 bulan saja setiap tahunnya.

Iklim semacam ini cocok untuk pengembangan Porang atau dalam bahasa daerah disebut Maek Bako. Tanaman maek bako tidak memerlukan perawatan secara khusus dan yang paling menjanjikan untuk dikembangkan adalah permintaan pasar yang tinggi. Dengan melihat peluang ini pengembangan Maek Bako di Kabupaten Belu akan dapat meningkatkan pendapatan petani.

Seperti yang di sampaikan oleh seorang pengusaha yang bergerak dalam bidang ekspor impor hasil Bumi – Alvin Mintura bahwa produksi Maek Bako di Kabupaten Belu dari tahun 2016 sampai tahun 2019 terus meningkat.

“ Selama ini tidak pernah ada yang menolak maek Bako dipasaran ketika ada yang ingin menjualnya, bahkan permintaan akan umbi maek bako atau porang kering sangat tinggi, sementara produksi Maek Bako sendiri belum mampu memenuhi permintaan pasar,” Ujar pengusaha muda ini.

Sesuai data rekapan hasil pembelian maek Bako yang dia miliki menunjukan produksi Maek Bako di Kabupaten Belu terus meningkat kurang lebih 20% pertahunnya. Meningkatnya produksi Maek bako tersebut sangat erat kaitannya dengan animo masyarakat untuk menanam tanaman yang merupakan salah satu makanan pokok bagi masyarakat di beberapa Negara di kawasan asia ini.

“Kalau petani hanya menggantungkan diri pada hasil maek bako yang diambil di hutan tanpa mau menanamnya kembali maka suatu saat pasti akan musna,” terangnya.

Alvin juga menambahkan harga Maek Bako atau porangpun tiap tahun terus mengalami peningkatan. Saat ini harga Maek Bako kering sebesar Rp.45.000,- (empat puluh lima ribu rupiah) perkilo gramnya. Alvin meminta agar masyarakat atau petani tidak perlu cemas karena berapapun banyaknya hasil Maek Bako yang dibawa kepengusaha, pasti dibeli semuanya. Pemilik toko Gajah Mada Atambua ini juga meminta agar para petani dapat terus memperhatikan kualitas maek bako dengan melakukan proses panen dan pengeringan secara baik dan benar.


Untuk Tahun Anggaran 2020 ini Pemerintah Pusat mengalokasikan anggaran untuk budidaya Maek Bako lewat APBN seluas 100ha dan Pemerintah Provinsi NTT mengalokasikan untuk pengembangan Maek Bako seluas 30ha. Direncanakan penanaman akan dilakukan menjelang akhir tahun 2020 sebelum memasuki musim penghujan.

Berita/Foto: Novita Bogar & Hengky Mao

Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.