RAIHAT PUNYA POSISI STRATEGIS DI PERBATASAN

Facebookrssyoutube

RAIHAT, Kecamatan Raihat memiliki nilai strategis di wilayah Kabupaten Belu karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Republik Demokraktik Timor Leste. Karena letaknya itu, Raihat dipandang sebagai satu wilayah yang dapat memberikan kontribusi lebih, dalam gerak pembangunan ini. Disamping itu, sebagai salah satu wilayah kecamatan perbatasan, Raihat memiliki nilai tawar lebih karena setelah pintu perbatasan Motaain, maka pembangunan pintu perbatasan Turiskain merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal tersebut diungkapkan Johanes Andes Prihatin, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Belu saat memberikan pandangannya dalam Musrenbangcam Raihat di Wemori, Kamis (03/03/2016).

musrenbang raihat 3

Dikatakan Johanes Prihatin bahwa sebagai Badan Pengelola Perbatasan di daerah, tugas instansinya adalah mengkoordinasikan pelaksanaan pengelolaan pembangunan di perbatasan. Menurutnya, sesuai regulasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi NTT Nomor 179 tahun 2014, Kecamatan Raihat adalah salah satu dari 7 Kecamatan yang ada di Kabupaten Belu, yang berbatasan darat langsung dengan Timor Leste, di samping 3 kecamatan pusat kegiatan strategis nasional dan 1 Kecamatan Transit.
“Kabupaten Belu memiliki batas administrasi paling banyak di Provinsi NTT sehingga memiliki nilai tawar tersendiri baik di mata nasional maupun di mata dunia internasional,” kata Jap, sapaan akrabnya.

musrenbang raihat2

Ditambahkannya, sesuai Perjanjian Indonesia dan Timor Leste di Denpasar, Bali tahun 2013 telah disepakati bahwa kedua negara bersepakat membuka 5 pintu perlintasan mulai dari Silawan, Turiskain, Dilumil, Henes Lakmaras, Laktutus, dan satu lainnya Motamasin yang berada di Kabupaten Malaka.
“Pintu perlintasan Turiskain sendiri berada di Raihat yang artinya bahwa ada nilai strategis yang sangat besar untuk masyarakat, sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga Raihat bisa berkembang,” jelasnya.

musrenbang raihat

Dikatakan, Pemerintah Pusat sudah merencanakan untuk tahun 2017 bahwa setelah pembangunan PLBN Motaain diselesaikan, maka pusat perhatian diarahkan ke Turiskain sebagai pintu lintas batas nomor dua. Dengan demikian, Turiskain akan menjadi pintu lintas batas dengan tipe A yang bisa dilintasi manusia dan barang dalam volume yang besar, dengan peralatan yang lebih memadai. Pemerintah Pusat juga sesuai kajian BNPP bersedia membangun jembatan perlintasan di Kali Nunura, tetapi harus ada koordinasi dan kesepakatan dengan Pemerintah Timor Leste, karena sudah melibatkan keberadaan dua wilayah.

Secara lokal, masih menurut Johanes Prihatin, dalam RTRW Kabupaten Belu yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2011-2031, Kecamatan Raihat masuk sebagai Kawasan Strategis Ekonomi, karena potensi pertanian dengan lahan yang sangat subur, areal persawahan yang luas dan irigasi yang memadai.
“Karena potensi tersebut, pada tahun 2014 melalui satu studi khusus, Haekesak ditetapkan sebagai Kawasan Agropolitan, yang juga diberikan perhatian lebih, sehingga ke depannya wilayah ini dijadikan salah satu sumber pangan masyarakat dan daerah lumbung beras bagi Kabupaten Belu,” paparnya.

Berhadapan dengan realitas ini, Ather Rinmalae, Sekretaris Kecamatan Raihat menyambut baik program yang menyasar wilayahnya, dan akan bersama-sama masyarakat tetap berusaha, sehingga program dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tidak mubazir. (humassetdabelu)

Reporter dan Foto : Herry Klau

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1507050046268999&id=100008920532196  

Facebookmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com