Penjual Sayur Keliling Cilik,

Facebookrssyoutube

penjualsayur-anak1

Penjual sayur keliling, hampir semua masyarakat kota Atambua bahkan sampai ke pelosok mengetahui dan sering berjumpa dengan mereka. terutama ibu-ibu rumah tangga yang seharinya berkutat dengan segala pekerjaan dirumah dari pagi bahkan subuh. Sayur…..sayur… demikian suara dari penjual sayur keliling ini, bahkan kebanyakan mereka lebih sering juga menyebutkan nama-nama sayur yang mereka bawa , bayam, kangkung, sawi, brokoli, toge, dan beberapa macam sayur lainnya. di Atambua tidak seperti di Kota besar lainnya, penjual sayur yang menggunakan kendaraan roda 2, sangat sedkit bahkan bisa dihitung dengan jari tangan, lebih banyak mereka memikul sayur tersebut dengan cara mengikatnya pada sebilah bambu dan memikulnya dipundak.
Tapi di artikel ini saya tidak mengangkat tentang semua penjual sayur, namun saya lebih fokus pada penjual sayur anak-anak yang semakin banyak di Kota Atambua. Disaat anak-anak yang lain sedang bersekolah atau bermain, anak-anak ini berjalan berkilo-kilo meter jauhnya sambil memikul sayur untuk dijual. Anak-anak ini pada umumnya berusia 7 hingga 15 tahun. Sebagaian dari mereka ada yang berjualan dipagi hari dan lebih banyak yang berjualan disore hari terutama dipasar baru Atambua. Tetapi anak-anak yang berjualan di Pasar Baru Atambua kerjanya lebih ringan, karena mereka mendapatkan dagangan dari lapak-lapak orangtua atau sanak mereka yang berjualan di Pasar tersebut, kemudian mereka menjualnya hanya diseputaran Pasar itu juga, sedangkan anak-anak yang berjualan keliling lebih sulit karena berjalan keliling lebih jauh. Namun hal yang sama adalah anak-anak yang berjualan ini memikul sayurnya dipundak kecil mereka. siapapun yang melihat dengan hati pasti sungguh terenyuh manakala melihat badan kecil mereka harus memikul beban yang sangat berat, serta rata-rata setiap mereka harus berjalan kaki sejauh 5-7km setiap harinya, rasanya sungguh tak tega.
Jika melihat lebih dekat dan memperhatikan raut wajah mereka, memang terlihat kelelahan bahkan kadang terlihat kesulitan, sering terlintas dalam pikiran saya dan mungkin juga para pembaca, “tega sekali orangtua yang membebani anak-anak mereka pekerjaan sedemikian berat, atau kasihan sekali anak-anak ini harus melakukan pekerjaan ini karena mungkin saja sudah tidak memiliki orangtua sehingga harus memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri”. Tapi itulah hidup yang harus mereka jalani untuk keberlangsungan hidup mereka dan ternyata tiap mereka sungguh menikmatinya, meski ada yang memang disuruh oleh orangtua ataupun karena keinginan mereka sendiri.
Anak-anak yang berjualan ini hampir semuanya tetap bersekolah baik di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Bagi mereka yang bersekolah pagi,maka akan berjualan sepulangnya mereka dari sekolah, yakni kisaran jam 1 siang hingga jam 6 sore. Dan bagi mereka yang bersekolah siang maka mereka akan berjualan dari pagi hari hingga waktu sekolah, dan setelah keluar sekolah sore hari, mereka akan lanjut berjualan keliling. Masing-masing mereka berjualan kurang lebih 5-6 jam dalam sehari. Waktu yang sangat lama bukan????? Yah, tapi itulah kenyataannya. Mungkin saat anak-anak kebanyakan sedang tidur siang ditempat yang nyaman, anak-anak penjual sayur keliling ini masih berjalan dalam teriknya panas matahari ataupun dinginnya air hujan ketika musim penghujan tiba dan mimikul berat yang berkisar 7kg – 10kg. Semua hanya untuk membantu orangtua, ataupun keluarga terdekat yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan melanjutkan pendidikan sekolah.

penjualsayur-anak2
Beberapa hari mengamati anak-anak ini, saya mendapatkan 2 anak dengan 2 latar belakng yang berbeda untuk melakukan pekerjaan ini. Sebut saja Lukas, salah satu anak yang berjualan sayur karena permintaan orangtuanya. Mengenakan kaos oblong, celana pendek dan sandal jepit Lukas memikul sayur-sayur sambil sesekali berteriak : Sayur….Sayur…. dan kemudian berhenti manakala ada orang yang membeli sayurnya. Lukas adalah seorang anak berusia 11 tahun yang sementara duduk dibangku kelas 6 SD Asuulun dan kebetulan bersekolah siang sehingga ia mempunyai waktu berjualan dipagi hari. Rumahnya Lukas juga terletak di kampung Asuulun, setiap harinya ia dan teman-temannya yang juga bersekolah siang, mulai berjualan sejak jam 5 pagi, berjalan kaki dari Asuulun sampai kedalam kota Atambua, memasuki gang-gang atau kompleks-kompleks. Jauh!!!!!. Lukas mengatakan bahwa mereka berjualan hingga pukul 08.00 wita, selanjutnya mereka akan kembli berjalan kaki pulang kerumah mereka. sesampainya dirumah mereka masih menyempatkan diri untuk belajar hingga tiba waktunya kesekolah pada pukul 12.00-15.00 wita. Sepulang dari sekolah mereka akan kembali melanjutkan berjualan sayur keliling, kembali berjalan hingga kedalam Kota Atambua hingga pukul 18.00 atau jam 6 sore, dan kemudian pulang kembali kerumah. Sehari menjual Lukas menerima upah Rp 10.000 yang ia gunakan untuk jajan dan juga menabung.
Lain halnya dengan Igo anak kelas IV (empat) SD yang juga berasal dari Asuulun yang saya temui dihari berikutnya, rutinitasnya sehari-hari menjual sayur memang sama saja dengan Lukas namun yang berbeda adalah Igo menjual sayur karena keinginannya sendiri dan igo pun mendapat upah lebih besar dari Lukas yakni Rp 20.000 s/d Rp 30.000 sehari.
Yang lebih luar biasa dan membanggakan adalah Lukas dan Igo merupakan anak yang cerdas dikelas mereka masing-masing. Bahkan mereka selalu juara, contohnya Lukas yang selalu juara 1 dan Igo yang juara 3. Hebeat bukan !!!!
Anak-anak ini kebanyakan berjualan untuk mendapatkan uang jajan mereka sendiri, dan bukan hanya itu tapi juga untuk membeli keperluan mereka lainnya terutama yang menjadi impian-impian mereka, seperti : sepatu, baju, tas atau hanya sekedar mainan dan bahkan mereka juga sudah belajar menabung dari hasil keringat mereka sendiri. Mereka mengatakan orangtua mereka memang sering memberikan uang jajan, tapi jika uang itu mereka dapatkan dari hasil usaha mereka sendiri, rasanya lebih senang, rasanya lebih bangga terhadap diri sendiri. Luar biasa bukan motivasi anak-anak ini.
Berjualan kelilingpun dilakukan dipilih karena bisa dilakukan disela-sela waktu luang sebelum dan seusai sekolah. Dengan berjualan keliling, sayur mereka juga lebih cepat habis disbanding jika berjualan dilapak-lapak. Sayur-sayur yang mereka jual, ada yang berasal dari kebun mereka sendiri dan ada pula yang membeli kembali dari kebun-kebun lainnya. Kadang untuk mengobati keinginan untuk bermain, maka mereka berhenti sejenak dan bermain sebentar bersama teman-teman yang lain. Entah hanya sekedar bermain kelereng, stik atau permainan lainnya. kadang mereka merasa sedih, tapi jika mereka ingin bermain, mereka bisa beristirahat sejenak disela-sela berjualan dan bermain bersama.
Setelah membaca artikel ini, yang saya harapkan dari setiap pembaca untuk tidak melihat sebelah mata perjuangan anak-anak ini dan juga setidaknya membantu mereka contohnya dengan tidak menawar jualan mereka, ataupun sekedar menyapa mereka dengan ramah. bersyukurlah bahwa anak-anak ini berusaha dan tidak hanya meminta-minta. Semoga anak-anak ini kedepannya menjadi anak-anak yang tangguh serta mereka mampu mencapai cita-cita yang mereka impikan serta mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendri dan penerus mereka.

penjualsayur-anak3

Facebookmail

One thought on “Penjual Sayur Keliling Cilik,

  • January 29, 2017 at 2:12 pm
    Permalink

    Sedih bacanya, disaat modern seperti ini masih ada saja anak anak yang harus bekerja, semoga kelak mereka dewasa diberikan kemudahan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com