PEMECAH BATU MANUAL DIPASAR LOLOWA

Facebookrssyoutube

kerikil1

Karung-karung sak semen berisi kerikil-kerikil yang siap dijual menghiasi halaman deretan rumah-rumah “bebak” atau dinding yang terbuat dari dahan/pelepah pohon sagu dan beratap seng yang sangat rendah. Yah itulah tempat tinggal sekaligus tempat mencari nafkah bagi para pemecah batu yang berada di Lolowa, rata-rata dari mereka sebelumnya menjadi penjual sayur pada waktu Pasar masih berada di Lolowa. Tapi sejak Pasar dipindahkan kembali kedalam kota Atambua, Pasar Lolowa menjadi sepi dan merekapun mengalami kesulitan mendapatkan pembeli hingga akhirnya mereka beralih menjadi pemecah dan penjual batu pecah atau kerikil.
Saat saya bertemu mereka para pemecah batu bukanlah waktu yang tepat karena semuanya telah selesai memecahkan batu mereka dan yang ada hanyalah tumpukan kerikil dalam karung sak semen yang siap dijual. Namun beruntung ditempat terpisah dari deretan rumah tersebut saya mendapatkan seorang ibu yang sementara memecahkan batu. Keringat mengucur, tangan dan jari-jari memerah dengan urat mencuat terlihat begitu jelas dibawah kulit serta beberapa bekas luka masih terlihat ditangan tapi tetap masih memegang pemukul besar dan diayunkan terus menerus untuk memecahkan batu hingga menjadi kerikil-kerikil kecil.
Ma Muti demikian sapaan ibu tadi, setiap harinya perempuan yang berumur 52 tahun dan berasal dari Builaran-Malaka ini adalah orang pertama yang mulai memecahkan batu diseputaran Lolowa. Sama halnya dengan pemecah batu lainnya Ma Muti juga memecahkan waktu sejak pasar lolowa tidak beroperasi dan kini memecah batu merupakan pekerjaan tetapnya setiap hari. Ma Muti memulai aktifitasnya sejak pukul 06.00 wita atau jam 6 pagi, sambil membawa kue jualannya ia berjalan dari rumahnya yang terletak dibelakang Gereja Lolowa menuju ketempatnya memecahkan batu yang berjarak ±200 m. berbekal 1 pemukul dan karet ban serta 1 lembar handuk lusuh, Ma Muti mulai aktivitasnya untuk memecahakan batu.
Karena tidak memiliki modal serta kebutuhan hidup yang cukup tinggi maka Ma Muti Tidak mampu membeli batu untuk dipecahkannya. Untuk itu Ma Muti mengandalkan batu dikali yang berjarak ± 1 km dari tempatnya bekerja. Dalam sekali jalan Ma Muti Mampu memikul 2 bongkah batu besar dengan cara 1 bongkah ia junjung dikepalanya, serta yang 1 lagi digendongnya. Jika batu yang didapat agak kecil, maka ia kumpulkan kedalam karung dan kemudian dipikulnya menuju ketempatnya memecahkan batu. Jika stok batu telah banyak, maka dalam sehari ia bisa menghasilkan 10 karung kerikil. Ma Muti melakukan pekerjaan ini sendirian, dikarenakan suaminya sudah cukup tua dan tidak dapat memecahkan batu, sehingga hanya mampu mengerjakan kebun mereka.

kerikil3
Lain halnya dengan pak Kanjo pemecah batu yang berada tidak jauh dari Ma Muti. Pa Kanjo merupakan salah satu dari pemacah batu lainnya yang memiliki modal sehingga untuk memecah batu ia membeli batu 1 ret (1 truck) yang mampu ia pecahkan paling lambat dalam 2 minggu. Batu yang ia beli ini awalnya seharga Rp 250.000 dan hingga kini harganya sudah naik menjadi Rp 400.000. dari 1 ret batu kali Kanjo menghasilkan ±100 karung kerikil. Sehingga awalnya ia menjual Rp 10.000 sampai Rp 12.000, kini Kanjo menjual dengan harga Rp 14.000- Rp 15.000 / karung. 100 karung kerikil yang dijual ini membutuhkan waktu paling lama 2 bulan hingga habis. Selain memecahkan batu dan menjualnya, kanjo juga menjual kayu api serta sirih.
Diakui oleh Ma Muti dan KAnjo serta pemecah batu yang lainnya, efek dari memecahkan batu yakni mereka sering kesulitan tidur malam, akibat dada mereka yang sakit hingga sulit bernapas akibat memukul batu yang keras. Untuk menguranginya Ma Muti menggunakan air rebusan daun pepaya untuk mandi sehingga mengurangi rasa sakit dan pegal. Selain dada yang sakit, masih ada kesulitan lain yang dalami diantaranya, mata yang terkena serpihan kerikil hingga berdarah dan masih banyak lainnya. Namun pekerjaan ini tetap harus mereka lakukan untuk keberlangsungan hidup mereka. Hasil dari menjual batu pecah tersebut selalu habis mereka gunakan untuk membiayai sekolah anak-anak dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun mereka bersyukur masih bisa bekerja dan menghasilkan uang, dibandingkan harus mengemis atau meminta-minta.

kerikil2

Facebookmail

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com