NOH AMALO PETANI SUKSES DENGAN PERAWAKAN SEDERHANA DARI KAMPUNG FATUKBOT

Facebookrssyoutube

 

14191466_1355787904433174_226544710_o

Dari kejauhan nampak seorang wanita paruh baya sedang menyiram tanaman perkebunan seluas ±1,5 HA di Kampung Asuulun, Kelurahan Fatukbot, didampingi seorang pemuda yang berjalan mengitari pohon-pohon Tomat, Brokoli, Kol Bunga dan Kol Buah serta Jagung Pulut, sambil sesekali mengecek tiap tanaman, apakah sudah siap dipetik. Kami pun melangkah dipematang diantara tanaman brokoli yang sedang berbunga serta tanaman tomat yang mulai memerah dan menunggu beberapa hari untuk siap dipanen. Namun sebelum kami menjumpai ibu dan pemuda tersebutyang terlihat sangat bersemangat bekerja dilahan pertanian mereka, seorang Bapak yang kira-kira seumuran dengan wanita paruh baya tersebut dengan mengendarai motor berhenti dan kemudian mendatangi kami. Ternyata bapak tersebut adalah Noh Amalo, pemilik Lahan pertanian tersebut. Dan wanita serta pemuda yang kami lihat adalah istrinya Albina Meak dan anaknya Pace.

14169585_1355788751099756_498180766_n

Noh yang berumur 58 tahun memulai usaha bertani sejak tahun 1985 dengan meminjam atau sewa pakai tanah milik temannya untuk digunakan sebagai lahan pertanian hingga tahun 1992. Dari hasil usaha pertanian dilahan pinjaman tersebut pada tahun 1988 Noh sudah mampu membeli setengah Hektar Are  tanah dengan harga Rp 400.00 (empat ratus ribu rupiah), yang kemudian tanah ini ia kelola menjadi lahan pertanian dengan berbagai hasil. Tanaman pertama Ia tanam adalah Kol Buah, dari hasil bertani Kol buah tersebut Noh melebarkan tanahnya menjadi ±1,5 HA. Awalnya Pace menjual hasil pertaniannya tidak hanya di Kabupaten Belu tapi sampai ke Kota Kupang bahkan menyebrang lautan hingga ke Pulau Alor, namun karena harus meninggalkan lahannya cukup lama hingga berminggu-minggu, akhirnya Noh dan istrinya memutuskan untuk menjual hasil pertanian mereka hanya dalam Kabupaten Belu.

14163662_1355787954433169_1569198177_o

 

Lahan pertanian milik Noh ini dikelola sepanjang tahun, sesuai tanaman yang cocok dengan musimnya. Jadi ketika bulan Januari hingga Mei atau Juni lahan tersebut ditanami Padi dan pada bulan Juli hingga Desember ditanami Brokoli, Tomat, Kol Bunga dan Buah.  Padi yang ia hasilkan untuk menjadi konsumsi pribadi selama 1 tahun. Sedangkan tanaman yang ia tanam sejak Juli hingga Desemberlah yang menjadi sumber pendapatan ekonomi bagi Noh dan keluarganya.

14191350_1355788644433100_1991538843_o

Noh menjelaskan bahwa Tanaman Brokoli, Kol bunga dan Buah serta Tomat ia panen setelah waktu 2 bulan sejak ditanam, jadi Juli hingga Desember Noh bisa melakukan tanam dan panen hingga 3 kali. Penanamannya pertama-tama penyemaian, setelah itu dilanjutkan dengan penanaman. Penyiraman tanaman inipun hanya membutuhkan waktu 2-3 kali dalam 1 minggu dan dilakukan oleh istri serta anaknya. Selanjutnya saat penjualan dilakukan oleh Noh dan anaknya Pace pemuda berumur 31 tahun yang menamatkan SMA dan berbekal keahlian bertani yang didapat oleh kedua orangtuanya, sejak 14 tahun lalu Pace memutuskan untuk membantu melanjutkan usaha bertani dilahan milik ayah dan ibunya ini. Harga yang mereka tawarkanpun mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 15.000 untuk Brokoli dan Bunga Kol, sedangkan Tomat satu ember hitam harganya  berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 100.000. Pasarannya pun tidak hanya diKAbupaten Belu tapi ke TTU dan Kabupaten Malaka. Hingga tahun 2015 yang lalu hasil pertaniannya ini juga dijual hingga ke perbatasan Motaain dan  sangat diminati oleh warga negara tetangga sebalah Timor Leste. Namun sejak tahun 2016 karena semakin ketatnya peraturan, maka Noh dan bahkan petani lainnya sudah tidak dapat menjual ke Perbetasan Motaain.

Meski telah sukses namun Noh dan istri serta anaknya hidup dengan sederhana, padahal, dari hasil pertaniannya, Noh dan istrinya telah berhasil membangun Rumah, menyekolahkan ke 8 anaknya (4 putri dan 4 putra), 4 orang menamatkan SMA dan bekerja swasta ( membuka Kios, bertani dan 1 menjadi Manager diPerusahaan bertaraf Internasional dan berdomisili di Denpasar-Bali),  2 tamat Diploma, dan 2 lainnya masih duduk dibangku SMP dan SMA.

Noh merupakan salah satu contoh petani yang sukses, berkat kerajinan, ketekunan dan ktreatifitas yang ia miliki. meskipun hingga kini  masih ada beberapa kendala yang dihadapi, diantaranya pupuk subsidi yang sangat susuh didapat meskipun Noh masuk dalam salah satu kelompok Tani hingga traktor yang masih harus ia sewa dengan harga yang cukup mahal. Namun hal ini tidak mematahkan semangat ia dan istri serta pace anaknya untuk terus bercocok tanam setiap tahunnya. Dari kegigihannya dalam bertani ini, Noh mendapat kesempatan berkunjung ke Ibukota Jakarta mewakili petani lainnya dalam Program Kementerian Kominfo RI tentang Aplikasi Pertanian Desa Broadband.

 

Facebookmail

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com