KONFERENSI PEREMPUAN INDONESIA TAHUN 2016 DILAKSANAKAN DI ATAMBUA-BELU

Facebookrssyoutube

prmpuan3

Konfrensi Perempuan Indonesia, diselenggarakan oleh MAMPU-BAKTI dan juga bekerjasama dengan berbagai Mitra Kerjanya termasuk Pemkab Belu, kongres ini dilaksanakan tanggal 17-18 Oktober 2016 di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, dengan mengusung tema “ Membangun Solidaritas Perempuan Timor dalam Mengakhiri Pemiskinan Perempuan selain bertujuan sesuai dengan tema yang diusung, tetapi juga merupakan peringatan Hari Internasional Anti Kemiskinan yang jatuh pada tanggal 17 Oktober. Dipilihnya Kabupaten Belu sebagai tempat diselenggarakan kegiatan ini adalah karena wilayah kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste, sehingga diharapkan dengan hadirnya Deputi Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan anak serta Kasubdit Bidang Perlindungan Anak Bappenas, dapat melihat langsung situasi dan persoalan tentang perempaun yang terdapat di wilayah tersebut, sehingga dapat membuat rencana kerja dan dapat mengimplementasikannya pada wilayah perbatasan yang berada di Kabupaten Belu. Demikian yang disampaikan oleh Ketua Komnas Perempuan Indonesia Azriana R Manalu. Azriana juga menambahkan bahwa hingga kini kasus kekerasan yang telah terdata mencapai 320 ribu kasus dan masih banyak kasus lainnya yang belum terdata oleh Komnas Perempuan Indonesia.
Dr. Horacio De Almeida, Deputi Provedor Ombudsman Timor Leste-HAM mengatakan dengan adanya kegiatan ini dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang ada diperbatasan terutama menyangkut perempuan dan penanganan antara ke 2 negara RI-RDTL. Sehingga nantinya dapat menghasilkan rekomendasi yang bersifat positif serta langkah-langkah konkrit dari pemerintah pusat hingga daerah untuk mendapatkan solusi bersama. Diakui Horacio bahwa kerentanan dalam hal ini perempuan juga terjadi di Timor Leste, baik penyelundupan, buruh migran dan hal lainnya. unutk itu pemerintah Timor Leste semakin memperkuat bagian imigrasi, penjagaan dan lain sebagainya diwilayah perbatasan, dalam hal ini wilayah yang berbatasan langsung dengan nerga RI.
Konfrensi Perempuan Indonesia ini dibuka pada tanggal 17 Oktober 2016 oleh BUpati Belu Willybrodus Lay. Materi yang disampaikan dalam konfrensi ini antara lain: Posisi Perempuan Timor dari Tinjauan Budaya dan Adat oleh (Veronika Ata,SH. M.Hum), Hubungan Kemiskinan Perempuan dengan Kekerasan ( Sr. Sesilia), Kebijakan Daerah tentang penanggulanagn Kemiskinan khususnya Perempuan (Bupati Belu), Arah Penaggulanagn Kemiskinan untuk Indonesia Timur (Agus Manshur), Situasi Perempuan NTT dalam Perspektif agama : Pdt. Paoina Bara Pa, S.Th.
Dalam konferensi ini juga dilakukan tematik I Kerentanan Perempuan di Perbatasan dan wilayah konflik serta migrasi, serta kekerasan terhadap perempuan (KDRT dan Traifiking) (PDHJ Timor Leste, SSP soe, Migrant Care), tematik II : Akses Perlindungan perempuan terhadap perlindungan social dan layanan kesehatan reproduksi (Lerry Mboik, dan Misiyah), Tematik 3 Kepemimpinan perempuan komunitas gerakan laki-laki baru dan inisiatif kerja penanggulangan kemiskinan ( Pengurus kelompok konstituen dan pekka), dan tematik 4 (Peran perempuan perlemen dalam mengadvokasi Perda yang pro gender (Mickael L dan Aquilina Ili. Dari tematik ini kemudian dihasilkan 8 Poin Deklarasi yang isinya: Siap Menjadi Agen Perubahan, Perdamaian dan rekonsiliasi; Memastikan kolaborasi sinergis antara pemerintah dan masyarakat sipil untuk terpenuhinya dan terlindunginya hak-hak perempuan dan anak Timor dalam semua aspek kehidupan khususnya diwilayah perbatasan; Menolak perlakuan diskriminasi dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak Timor dengan mengatasnamakan adat;bekerjasama dengan pemerintah, swasta, lembaga adat, lembaga agama, masyarakat, akademisi dan jaringan lainnya ditingkat local, nasional dan internasional unutk mengakhiri kemiskinan perempuan Timor; Mendukung gerakan dan partisipasi laki-laki dalam penghapusan kekerasan dan pemiskinan terhadap perempuan; Mendukung partisipasi aktif perempuan dalam pengambilan keputusan disetiap jenjang pengembalian keputusan; menghidupkan dan menguatkan kembali mekanisme adat untuk menolak perusakan lingkungan dan memulihkan kembali lingkungan yang rusak; serta berkomitmen bersama untuk melindungi wilayah adat dari ekploitasi dan perusakan.

prmpuan4

Facebookmail

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com