KEHUTANAN / FORESTRY

Facebookrssyoutube

Luas kawasan hutan berdasarkan Berita Acara (BA) Tata Batas pada tahun 2014 adalah 58.155,55 Ha yang terdiri dari Hutan Lindung, Hutan Produksi, Hutan Produksi Tetap, Hutan Produksi Konversi, Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. Luas kawasan hutan tersebut masih tersebar di wilayah Kabupaten Belu dan Malaka dan belum ada pemisahan dikarenakan penetapan luas yang terpisah belum ada dan tidak dapat dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Belu karena merupakan wewenang Kementrian Kehutanan. Berikut secara rinci dijelaskan pada Tabel:

LUAS KAWASAN HUTAN & PENYEBARANNYA BERDASARKAN BERITA ACARA (BA) TATA BATAS
DI KABUPATEN BELU

NO KAWASAN HUTAN NOMOR RTK FUNGSI LUAS (Ha) LOKASI PENYEBARAN
KABUPATEN BELU KABUPATEN MALAKA
1 Bifemnasi Sonmahole 184 Hutan Lindung 13,099.300 Kakuluk Mesak, Tasifeto
Barat, Atambua Barat,
Atambua Selatan
Laenmanen, Sasitamean,
lo Kufeu, Botin Leo Bele,
Malaka Timur
184 Hutan Produksi Tetap 3,025.00
2 Lakaan Mandeu 187 Hutan Lindung 23,420.00 Lamaknen Selatan,
Lamaknen, Tasifeto
94 Hutan Lindung 3,541.95
3 Fatukaduak 93 Hutan Lindung 1,687.40 Kakuluk Mesak, Tasifeto

Timur

4 Oenunu 203 Hutan Produksi 2,241.97 Rinhat
5 Tuku Besi 95 Hutan Lindung 195.00 Kakuluk Mesak, Tasifeto Timur
6 Uabau Atepupu 115 Hutan Produksi Konversi Laenmanen, Sasitamean
7 Maubesi 189 Cagar Alam 3,246.00 Malaka Tengah, Kobalima
8 Kateri 77 Suaka Margasatwa 4,699.32 Botin Leo Bele,
Kobalima, Malaka
Tengah
9 Wemata 91 Hutan Produksi 155.88 Tasifeto Barat Atambua Selatan
10 Udukama 90 Hutan Produksi 199.51 Tasifeto Barat Atambua Selatan
11 Salle 78 Hutan Lindung 853.80 Kobalima
12 Fatusakar 202 Hutan Lindung 1,198.90 Kobalima Timur
13 Halilulik 87 Hutan Produksi 591.52 Tasifeto Barat
JUMLAH KESELURUHAN 58,155.55

Sumber: Dinas Kehutanan Kab. Belu Tahun 2014

Dilihat dari penyebaran lokasinya kawasan hutan (KH) Uabau Atepupu (RTK 115) berada di dalam KH Bifemnasi Sonmahole (RTK 184). Pemisahan antara kedua kawasan hutan tersebut belum dapat dilakukan sehingga luas KH Uabau Atepupu masih tergabung di dalam KH Bimfemnasi Sonmahole. Total keseluruhan kawasan Hutan Lindung seluas 43.996,35 Ha, Hutan Produksi seluas 3.188,88 Ha, Hutan Produksi Tetap seluas 3.025 Ha, Cagar Alam seluas 3.246 Ha dan Suaka Margasatwa seluas 4.699,32 Ha.

Selain kawasan hutan tersebut di atas, Kabupaten Belu juga mempunyai beberapa hutan mangrove yang tersebar di 2 (dua) kecamatan pesisir yaitu Kecamatan Kakuluk Mesak dan Tasifeto Timur. Keberadaan hutan mangrove di perairan pantai di Kabupaten Belu berperan terhadap perkembangan produksi ikan tangkap laut karena salah satu fungsi hutan mangrove adalah sebagai tempat pemisahan dan tempat asuh ikan dan biota lainnya. Kabupaten Belu memiliki hutan mangrove seluas 317,98 Ha yang terletak di sepanjang pantai utara. Luas kawasan hutan mangrove terbesar berada di Kecamatan Tasifeto Timur seluas ±181,81 Ha atau 57% dari total luas mangrove di Kabupaten Belu. Data lebih rinci dapat dilihat pada Tabel  berikut:

SEBARAN & KONDISI MANGROVE DI KABUPATEN BELU TAH UN 2014

NO KECAMATAN DESA STATUS LOKASI LUAS (Ha) KETERANGAN
1 Kakuluk Mesak Kenebibi Dalam Kawasan Hutan Tuku Besi (RTK 95) ± 12, 00 Dalam Kawasan Hutan Tuku Besi telah ada lokasi sumber benih mangrove teridentifikasi untuk jenis Rhizophora sp., Avicenia sp. , dan Ceriops Togal. Diidentifikasi oleh Badan Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Bali Nusa Tenggara.
Luar Kawasan Hutan ± 19,78
Jenilu Luar Kawasan Hutan ± 29,66
Dualaus Luar Kawasan Hutan ± 62,66
Fatuketi Luar Kawasan Hutan ± 12,07
2 Tasifeto Timur Silawan Dalam Kawasan Hutan Tuku Besi (RTK 95) ± 181,81
JUMLAH KESELURUHAN ± 317,98

Sumber: Dinas Kehutanan Kab. Belu Tahun 2014

Hasil hutan berkontribusi bagi pendapatan masyarakat Belu. Dari Tabel V.10 di bawah terlihat jelas hasil hutan terbagi atas 2 (dua) jenis yaitu hasil hutan kayu dalam satuan M3 dan hasil hutan bukan kayu. Pada jenis hasil hutan kayu, tipe jati gergajian merupakan hasil yang paling banyak dihasilkan di Kabupaten Belu dibanding dengan dengan jenis kayu indah dan kayu rimba campuran. Sedangkan pada jenis hasil hutan bukan kayu, kemiri isi merupakan hasil dengan jumlah terbanyak sebesar 393,980 Kg. Menurut periode waktu, bulan Januari sampai dengan bulan Maret merupakan periode dengan hasil hutan terbanyak. Data yang ada pada tabel merupakan data keadaan bulan Oktober tahun 2014.

PRODUKSI HASIL HUTAN BERDASARKAN JENIS DI KABUPATEN BELU TAHUN 2014

NO JENIS HASIL HUTAN PRODUKSI
1JAN-MARET APRIL-JUNI    I      JULI-SEPT        I          TOTAL
Hash/ Hutan Kayu (M 3)
A. Jati
1 Jati Gergajian 2,119.09 2,096.81 1,585.47 5,801.37
2 Jati Bulat 76.36 101.62 73.43 251.41
B Kayu Indah
3 Mahoni Gergajian 17.96 15.97 1.60 35.53
C Kayu Rimba Campuran
4 Kemiri Gergajian 492.63 355.83 76.16 924.62
5 Gmelina Gergajian 22.59 20.83 19.30 62.72
6 Aeraek 3.63 3.63
7 Kapok Gergajian 20.40 20.40
8 Akasia Gergajian 0.86 0.86
9 Sengon Gergajian 8.48 8.48
10 Mangga Gergajian 7.01 5.16 0.78 12.95
Hasil Hutan Bukan Kayu
11 Kemiri Isi (Kg) 342,620 51,360 393,980
12 Kemiri Kulit (Kg) 18,000 25,000 43,000
13 Asam Isi (Kg) 215,250 215,250
14 Asam Biji (Kg) 398 398
15 Madu (Liter) 404 404

Sumber: Bid. Bina Produksi Kehutanan, Dinas Kehutanan Kab. Belu Tahun 2014 (Data Bulan September

 

Facebookmail

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com