WORKSHOP PENCEGAHAN STUNTING DIIKUTI 50 PENGELOLA PAUD

Facebookyoutubeinstagram
DINAS KOMINFO KAB. BELU – Jumat (13/11) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu – Jonisius R. Mali, SH, membuka secara resmi Workshop Pencegahan Stunting, Kerjasama BP PAUD dan DIKMAS Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu.
Kegiatan Workshop ini berlangsung di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu yang diikuti 50 orang peserta pengelola, Tutor PAUD dan Bunda PAUD Desa dan pengelola lembaga – lembaga pendidikan PAUD.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu – Jonisius R. Mali, SH mengatakan kegiatan workshop yang diselenggarakan hari ini ditujukan kepada para Tutor dan pengelola PAUD yang ada di kecamatan dan desa untuk dapat memahami dan mengerti tentang masalah stunting yang terjadi pada anak usia dini.
” Kegiatan workshop hari ini kita selenggarakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada para pengelola PAUD, Tutor dan orang tua anak usia dini agar dapat memahami dan mengerti apa penyebab stunting dan bagaimana pencegahan terhadap stunting,” ungkapnya.
Lanjutnya, dalam kegiatan ini kita harapkan tenaga Tutor dan orang tua anak usia dini setelah mengikuti workshop ini dapat memiliki kecakapan, keterampilan dan wawasan yang luas terkait stunting dan mampu menjadi ujung tombak atau menjadi sumber informasi bagi masyarakat dalam penanggulangan stunting di Kabupaten Belu sehingga dapat menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Belu.
Dijelaskannya bahwa Masalah stunting adalah suatu masalah yang kompleks dan berdasarkan data global intervensi penanganan stunting itu dari aspek kesehatan 30% sementara 70% itu dipengaruhi oleh asupan gizi. Oleh karena itu sesuai dengan Kepres, Presiden meminta prevalensi stunting di Indonesia harus turun pada 2024 mendatang menjadi 14%. Sebagai salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan maupun pada OPD-OPD terkait untuk kita bersama dapat mencegah stunting melalui pendekatan pendidikan dalam hal ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Melalui PAUD holistik integratif sebagai pilar utama, maka seluruh pengelola PAUD di Kabupaten Belu dengan jumlah PAUD 215 dan holistik integratif ada 15 PAUD kedepannya kita akan arahkan semua pengelola PAUD memiliki sensifitas dukungan pada pendidikan anak usia dini satu sampai enam tahun perlu adanya perhatian khusus.
Tambahnya seribu hari kehidupan yang dihitung dari kehamilan 9 bulan kemudian setelah 23 bulan di luar pada saat itu anak-anak sudah mulai memasuki fisik out. Ini merupakan periode emas pentingnya penanganan stunting dimulai pada pendidikan anak usia dini dan prestasi yang paling bernilai itu adalah investasi SDM pada anak-anak. Untuk itu PAUD Holistik Integratif (HI) akan kita perbanyak dan keseluruhan pengelola PAUD harus memiliki sensitivitas gizi.
Penanganan stunting itu harus korelatif tidak bisa diselesaikan oleh satu Dinas tetapi harus bersama dinas terkait yakni Dinas Kesehatan, Dinas PMD yang berkaitan dengan Desa, BKKBN berkaitan dengan pengembangan pertumbuhan anak dan orang tua. Kita harus berusaha terus-menerus dan kerjasama yang baik dalam mengurangi stunting yang ada di Kabupaten Belu.
Materi dalam Workshop ini dibawakan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu – Jonisius R. Mali, SH tentang Kebijakan Program PAUD, materi kedua oleh Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pelayanan Sosial Dasar pada Dinas PMD Kabupaten Belu – Aleksander Ariyanto Mau, S.KM dengan materi Peran Pemerintah Desa dalam upaya Pencegahan Stunting dan Pemateri ketiga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu – dr. Joice M. M. Manek, MPH membawakan materi tentang Strategi Dinas Kesehatan dalam Mengatasi Stunting dan Pengenalan MPASI serta Materi yang dibawakan oleh Bunda Regina Wunda, BSc tentang Peran Serta Orang Tua dalam Pencegahan Stunting.
Berita / Foto : Hengki Mao & Domi Bitin
Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published.